Wall Street Tertekan Data Ekonomi, Bursa Asia Flat

Bursa saham Asia bergerak flat pada perdagangan pagi ini, Jumat (22/2/2019), menyusul pelemahan yang dialami bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) akibat terbebani memburuknya prospek ekonomi global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  09:30 WIB
Wall Street Tertekan Data Ekonomi, Bursa Asia Flat
BUrsa Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia bergerak flat pada perdagangan pagi ini, Jumat (22/2/2019), menyusul pelemahan yang dialami bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) akibat terbebani memburuknya prospek ekonomi global.

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI Asia Pasific selain Jepang naik hanya kurang dari 0,1% pada awal perdagangan hari ini. Pada saat yang sama, bursa saham Australia naik 0,5% dan indeks Nikkei Jepang turun 0,3%.

Investor terus mencermati perundingan perdagangan antara pemerintah AS dan China di Washington. Terhitung hanya sekitar sepekan sebelum tenggat waktu yang ditentukan AS untuk tercapainya kesepakatan berakhir.

Reuters melaporkan secara eksklusif pada Rabu (21/2) bahwa kedua pihak tengah menyusun konsep untuk enam nota kesepahaman (MoU) tentang usulan reformasi di China. Laporan tersebut menjadi kemajuan yang telah membantu mengangkat sentimen investor.

Kendati demikian, bursa Wall Street merosot pada perdagangan Kamis (21/2) setelah data indikator ekonomi terkini menunjukkan pelemahan pada rencana belanja bisnis dan aktivitas pabrik di AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 103,81 poin atau 0,4% di level 25.850,63, indeks Standard &Poor’s 500 turun 9,82 poin atau 0,35% ke level 2.774,88, dan Nasdaq Composite berakhir melemah 29,36 poin atau 0,39% di 7.459,71.

Departemen Perdagangan melaporkan pesanan domestik untuk barang-barang modal nonpertahanan selain pesawat terbang, yang menjadi indikator rencana belanja bisnis, melorot 0,7%.

Dan lagi, sektor pabrik Atlantik Tengah AS turun ke teritori kontraksi pada Februari, untuk pertama kalinya sejak Mei 2016, menurut data Philadelphia Federal Reserve.

“Ketika manufaktur global lemah, aktivitas jasa tampak lebih positif. Namun sulit untuk melihat manufaktur dan jasa tak sejalan untuk waktu lama,” papar analis di ANZ dalam risetnya.

“Ada efek multiplier yang kuat dari manufaktur yang menyiratkan risiko penurunan pada sektor jasa, khususnya di Eropa. Dan ketidakpastian perdagangan, yang menggantungkan sektor manufaktur, perlu dituntaskan,” lanjutnya.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun menjadi 2,686% pada hari ini, dibandingkan dengan level 2,688% pada Kamis (21/2) saat optimisme investor tentang progres perundingan perdagangan menyusut.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wall street

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top