Rupiah Terdongkrak Komentar Trump Soal Tarif China

Rupiah berhasil mempertahankan reboundnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (13/2/2019), di tengah penguatan mayoritas mata uang di Asia.
Renat Sofie Andriani | 13 Februari 2019 18:18 WIB
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah berhasil mempertahankan rebound-nya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (13/2/2019), di tengah penguatan mayoritas mata uang di Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup terapresiasi 9 poin atau 0,06% di level Rp14.059 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (12/2), rupiah mengakhiri pergerakannya dengan pelemahan 34 poin atau 0,24% di level Rp14.068 per dolar AS.

Rupiah mulai rebound terhadap dolar AS ketika dibuka dengan penguatan 35 poin atau 0,25% di level Rp14.033 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.014 – Rp14.059 per dolar AS.

Bersama rupiah, mayoritas mata uang di Asia menguat terhadap dolar AS, dipimpin ringgit Malaysia dan won Korea Selatan yang masing-masing terapresiasi 0,23% dan 0,19%.

Penguatan mayoritas mata uang di Asia mendapatkan dorongan dari optimisme seputar progres perundingan perdagangan Amerika Serikat-China setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan terbukanya peluang memperpanjang batas waktu yang ditetapkan untuk penaikan tarif.

Trump membuka kemungkinan memperpanjang batas waktu pada 1 Maret yang ditetapkan untuk meningkatkan tarif terhadap impor senilai US$200 miliar asal China menjadi 25% dari 10%.

Kemungkinan itu dikatakannya terbuka jika perundingan perdagangan antara kedua negara yang berlangsung pekan ini membuat progres.

“Jika kita [AS-China] membuat progres menuju kesepakatan yang dapat mewujudkan kesepakatan nyata berikut penyelesaiannya, saya bisa saja menunda penerapan [kenaikan tarif] untuk sementara waktu,” kata Trump kepada awak media saat menggelar rapat kabinet pada Selasa (12/2/2019) waktu setempat.

Komentar terbaru dari Trump menjadi indikasi terkuat bahwa ia bersedia memberi lebih banyak waktu kepada China untuk mencapai resolusi guna menghindari konflik perdagangan yang telah memengaruhi ekonomi global.

“Mata uang Asia menguat setelah penguatan dolar AS baru-baru ini memicu profit taking dari komentar Trump soal tarif,” ujar Sue Trinh, kepala strategi valuta asing Asia di Royal Bank of Canada, Hong Kong, sebagaimana dikutip Bloomberg.

Pada perdagangan Selasa (12/2), indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama, berakhir melemah 0,348 poin atau 0,36% di level 96,709, meskipun sore ini terpantau naik 0,101 poin atau 0,10% ke posisi 96,810 pada pukul 17.30 WIB.

Menurut Alan Lau, ekonom OCBC, berkurangnya volatilitas rupiah tetap menjadi kunci untuk memastikan stabilitas makro di Indonesia.

“Rupiah tetap sensitif dan rentan terhadap peristiwa eksternal mengingat fokus investor pada situasi defisit kembar (defisit fiskal dan transaksi berjalan), bahkan jika fundamental makroekonomi domestik menunjukkan yang sebaliknya,” tambah Lau.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top