Rupiah Ditutup Rebound Saat Indeks Dolar AS Menghijau

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup rebound 18 poin atau 0,13% ke level Rp13.955 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 08 Februari 2019  |  17:59 WIB
Rupiah Ditutup Rebound Saat Indeks Dolar AS Menghijau
Rupiah Ditutup Rebound di Saat Indeks Dolar AS Menghijau

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah mampu rebound dan berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (8/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup rebound 18 poin atau 0,13% ke level Rp13.955 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.

Pada perdagangan Kamis (7/2), rupiah berakhir melemah 53 poin atau 0,38% di level Rp13.973 per dolar AS.

Rupiah mulai melanjutkan pelemahannya ketika dibuka terdepresiasi 2 poin atau 0,01% di posisi 13.975 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.954-Rp13.998 per dolar AS.

Rupiah melemah di saat mayoritas mata uang lainnya di Asia juga menguat, dipimpin oleh rupee India yang terapresiasi 0,56%, sedangkan baht Thailand melemah 0,75% dan menjadi yang paling tertekan di antara mata uang lainnya.

Sementara itu, Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan US$9,1 miliar pada kuartal IV/2018, atau melebar hingga 3,57% terhadap PDB. 

Defisit ini jauh lebih tinggi dari defisit pada kuartal III/2018 yang sebesar US$8,6 miliar. 

Meski demikian, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Yati Kurniati mengatakan defisit ini masih cukup aman karena bisa ditutupi oleh surplus di transaksi modal dan finansial.

"Sehingga, ketahanan eksternal kita masih terjaga dan defisit ini utamanya disebabkan oleh impor untuk kegiatan produktif," ungkapnya dalam konferensi pers, Jumat (8/2/2019).

Yati menjelaskan defisit transaksi berjalan ini dibebani oleh defisit pada neraca perdagangan barang. Dari catatan bank sentral, kinerja ekspor nonmigas melemah karena dipengaruhi perlambatan pertumbuhan permintaan global dan harga komoditas yang menurun. 

Di sisi lain, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,097 poin atau 0,1% ke level 96,604 pada pukul 17.19 WIB.

Pergerakan indeks dolar sebelumnya dibuka naik 0,10% atau 0,117 poin di level 96,507, setelah  berakhir menguat 0,117 poin atau 0,12% di level 96,507 pada perdagangan Kamis (7/2), kenaikan hari keenam beruntun.

Penguatan dolar AS seiring dengan meningkatnya daya tarik aset safe haven akibat kekhawatiran mengenai negosiasi perdagangan AS-China dan perlambatan pertumbuhan global.

Dilansir dari Reuters, kekhawatiran tersebut muncul pada Kamis (7/2) setelah Komisi Eropa memangkas tajam proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi zona euro tahun ini dan berikutnya. Negara-negara terbesar di kawasan tersebut diperkirakan akan terdampak ketegangan perdagangan global dan tantangan-tantangan domestik.

Hal ini mendorong menjalarnya kekhawatiran perlambatan global saat bisnis dan investor di kawasan tersebut bergulat dengan friksi perdagangan.

Keresahan investor soal ekonomi global diperburuk komentar Presiden AS Donald Trump bahwa ia tidak berencana untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping sebelum batas waktu pada 1 Maret mendatang yang ditetapkan guna mencapai kesepakatan perdagangan.

Pernyataan ini kembali memicu kekhawatiran bahwa kedua pihak tidak akan mencapai kesepakatan sebelum batas waktu yang ditetapkan pemerintahan Trump untuk memberlakukan kenaikan tarif atas barang-barang impor senilai US$200 miliar asal China.

“Dolar AS didukung oleh kekhawatiran atas pertumbuhan global dan faktor-faktor eksternal,” kata Sim Moh Siong, pakar strategi mata uang di Bank of Singapore.

“Pasar sedang menantikan untuk melihat langkah-langkah kebijakan apa yang dapat menstabilkan pertumbuhan di seluruh dunia. Sampai itu terjadi, sulit untuk melihat dolar melemah,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top