Laba BNI Tahun 2018 Capai Rp15,02 Triliun

Bank Negara Indonesia (BBNI) berhasil mencetak laba Rp15,02 triliun pada 2018 atau tumbuh 10,3% secara tahunan dibanding perolehan 2017 sebesar Rp13,62 triliun.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  17:15 WIB
Laba BNI Tahun 2018 Capai Rp15,02 Triliun
Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta memaparkan Laporan Kinerja BNI 2018 di Jakarta, Rabu (23/1/2019). - ANTARA/Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Negara Indonesia (BBNI) berhasil mencetak laba Rp15,02 triliun pada 2018 atau tumbuh 10,3% secara tahunan dibanding perolehan 2017 sebesar Rp13,62 triliun.

Pertumbuhan laba disokong oleh kinerja kredit yang meningkat 16,2% yoy, yaitu dari Rp441,31 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp512,78 triliun pada akhir 2018. 

Wakil Direktur Utama BNI, Herry Sidharta mengatakan pertumbuhan kredit BNI tersebut menciptakan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) yang tumbuh 11,0% yoy yaitu dari Rp31,94 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp35,45 triliun pada akhir 2018. NII tersebut menjadi sumber pertumbuhan laba bersih BBNI yang utama. 

Pertumbuhan Laba Bersih BNI juga ditopang oleh pertumbuhan Pendapatan Non Bunga sebesar 5,2% yoy yaitu dari Rp11,04 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp11,61 triliun pada akhir 2018. Pertumbuhan Pendapatan Non Bunga tersebut didorong oleh peningkatan kontribusi fee dari Trade Finance, pengelolaan rekening,danfee bisnis kartu. 

"Pencapaian laba bersih BNI ini juga didukung dari membaiknya kualitas aset, ditunjukkan oleh NPL Gross yang membaik dari akhir 2017 sebesar 2,3% menjadi 1,9% di akhir 2018. Sehingga BNI mampu menekan creditcost dari 1,6% pada akhir 2017 menjadi 1,4% pada akhir 2018," katanya saat jumpa media, Rabu (23/1/2019).

Di sisi lain, coverage ratio perseroan meningkat dari 148,0% pada akhir Desember 2017 menjadi 152,9% pada Desember 2018 untuk mengantisipasi kondisi global yang masih penuh ketidakpastian pada 2019 ini. 

BNI juga berhasil meningkatkan efisiensi di dalam operasionalnya selama 2018, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 42,5% pada Desember 2018, dibandingkan posisi Desember 2017 yang sebesar 43,9%. Hal ini juga disebabkan oleh keberhasilan BNI dalam menjaga pertumbuhan Biaya Operasional (OPEX) tetap pada level 6,8%.

Kombinasi pertumbuhan NII, peningkatan Pendapatan Non Bunga, perbaikan kualitas Aset, dan efisiensi OPEX telah menumbuhkan laba bersih BNI sebesar 10,3% pada akhir tahun 2018. Dengan profitabilitas tersebut, BNI mencatatkan pertumbuhan Return on Equity (ROE) dari 15,6% menjadi 16,1% yoy. 

Kinerja penyaluran kredit BNI tersebut tidak terlepas dari kemampuan dalam mengelola likuditas secara optimal. Meskipun berada pada kondisi pasar likuiditas yang sangat ketat, BNI mampu menjaga pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 12,1% yoy, yaitu dari Rp516,10 triliun pada Desember 2017 menjadi Rp578,78 triliun pada Desember 2018. 

Sementara itu, BNI berhasil mencatatkan total aset Rp808,57 triliun atau tumbuh 14,0% yoy dibandingkan akhir 2017 yang mencapai Rp 709,33 triliun. Pertumbuhan aset BNI ini jauh melampaui pertumbuhan aset di industri perbankan yang mencapai 9,1% yoy per November 2018. 

Kinerja anak perusahaan BNI disepanjang 2018 juga menunjukkan tren peningkatan yang positif dan memberikan kontribusi terhadap laba bersih BNI. BNI group memiliki lima perusahaan anak yang meliputi BNI Syariah, BNI Life, BNI Multifinance, BNI Sekuritas dan BNI Asset Management. Kelima perusahaan ini pada 2018 mampu memberikan kontribusi 9,24% terhadap total laba BNI konsolidasian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bni, bbni

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top