Rupiah & Mata Uang di Asia Terbebani Data Perdagangan China

Nilai tukar rupiah dan hampir seluruh mata uang di Asia kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (14/1/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  19:36 WIB
Rupiah & Mata Uang di Asia Terbebani Data Perdagangan China
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dan hampir seluruh mata uang di Asia kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (14/1/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir melemah 77 poin atau 0,55% di level Rp14.125 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan Jumat (11/1/2019).

Pada perdagangan Jumat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu memperpanjang penguatannya pada hari ketika meskipun hanya berakhir terapresiasi tipis 5 poin atau 0,04% di level Rp14.048 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah mulai tergelincir melemah terhadap dolar AS setelah dibuka terdepresiasi 5 poin atau 0,04% di level Rp14.053 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.038 – Rp14.144 per dolar AS.

Bersama rupiah, hampir seluruh mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS, dipimpin won Korea Selatan dan rupee India yang masing-masing melemah 0,61%.

Sebaliknya, hanya yen Jepang yang mampu membukukan pengguatan di tengah pelemahan mata uang di Asia. Nilai tukar yen terpantau menguat 0,41% terhadap dolar AS pada pukul 18.45 WIB.

Dilansir dari Bloomberg, won Korea Selatan memimpin pelemahan mata uang di Asia terhadap dolar AS menyusul penurunan yang mengejutkan dalam data ekspor dan impor China pada Desember.

Fakta ini menunjukkan pelemahan lebih lanjut dalam negara berekonomi terbesar kedua di dunia tersebut dan permintaan global yang lebih lesu.

Berdasarkan data Administrasi Bea Cukai China, ekspor dalam dolar turun 4,4% pada Desember dari bulan yang sama tahun sebelumnya, sementara impor turun 7,6% pada periode yang sama. Penurunan ekspor dan impor tersebut merupakan yang terburuk sejak 2016.

Dengan penurunan ekspor dan impor tersebut, neraca perdagangan dalam denominasi dolar AS meningkat menjadi US$57,1 miliar pada Desember.

Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2018 ekspor dalam dolar AS naik 9,9% menjadi US$2,48 triliun, sedangkan impor naik 15,8%, dengan surplus neraca perdagangan sebesar US$351,8 miliar.

“Angka-angka perdagangan China dengan segera membebani pasar komoditas dan ekuitas dan sejumlah mata uang terkait,” kata Stephen Innes, kepala perdagangan Asia Pasifik di Oanda, Singapura, dalam risetnya.

Menurut Ken Cheung, pakar strategi valas senior Asia di Mizuho Bank di Hong Kong, sebelum rilis data tersebut, angka perdagangan China yang mengecewakan akan menyoroti dampak negatif dari perang dagang dan mengingatkan investor akan risiko perlambatan di China.

“[Di sisi lain], prospek yuan dan [sikap] Federal Reserve yang lebih dovish [terkait suku bunga] membantu mengurangi tekanan arus keluar modal dari pasar negara berkembang Asia,” tambahnya.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,125 poin atau 0,13% ke level 95,545 pada pukul 18.36 WIB.

Pergerakan indeks dolar AS sebelumnya dibuka terkoreksi tipis 0,017 poin atau 0,02% di level 95,653, setelah pada perdagangan Jumat (11/1) berakhir menguat 0,14% atau 0,131 poin di posisi 95,670.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top