Bursa Asia Menguat, IHSG Melaju Positif Hingga Akhir Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,33% atau 20,35 poin ke level 6.135,84 pada akhir sesi I, meskipun dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,11% atau 6,54 poin ke level 6.108,95.
Aprianto Cahyo Nugroho | 07 Desember 2018 12:22 WIB
Karyawan melakukan perawatan patung Banteng Wulung, di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melaju di zona hijau hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (7/12/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,33% atau 20,35 poin ke level 6.135,84 pada akhir sesi I, meskipun dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,11% atau 6,54 poin ke level 6.108,95.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.103,18 – 6.137,41. Adapun pada perdagangan Kamis (6/12), IHSG ditutup melemah 0,29% atau 17,63 poin ke level 6.115,49.

Sebanyak 185 saham menguat, 170 saham melemah, dan 263 saham stagnan dari 618 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia siang ini.

Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing menguat 1,89% dan 2,16% menjadi penopang utama terhadap penguatan IHSG pada akhir sesi I.

Enam dari sembilan indeks sektoral IHSG melemah pada perdagangan siang ini, dipimpin sektor properti yang menguat 1,73% dan aneka industri yang naik 1,34%.

Di sisi lain, tiga sektor melemah dan menahan penguatan IHSG lebih lanjut, didorong oelh sektor finansial yang melemah 0,2%.

IHSG menguat sejalan dengan bursa saham Asia, ditopang spekulasi seputar suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat (AS) yang membantu meredakan sedikit tekanan pekan ini.

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing menguat 0,44% dan 0,52%, indeks Kospi menguat 0,42%, sedangkan indeks Hang Seng dan Shanghai Composite naik masing-masing 0,27% dan 0,08%.

Di Asia Tenggara, indeks FTSE Straits Times Singapura menguat 0,41%, indeks SE Thailand naik 0,25%, sedangkan indeks PSEi Filipina dan indeks FTSE Malay KLCI melemah masing-masing 0,72% dan 0,2%.

Sentimen positif untuk pasar ekuitas terdorong setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa para pejabat The Fed sedang mempertimbangkan apakah akan mengisyaratkan sikap wait and see baru setelah penaikan suku bunga yang berpotensi terjadi dalam pertemuan terakhir mereka tahun ini pada Desember.

“Sebuah pandangan telah mengembangkan normalisasi pertumbuhan AS sedikit lebih cepat dari yang diperkirakan akibat 'gejolak' fiskal, sementara tekanan inflasi tetap tertahan mengingat penurunan tajam harga minyak,” kata ekonom National Australia Bank, Tapa Strickland.

Kekhawatiran atas hubungan perdagangan China dan AS masih meningkat pascapenangkapan Chief Financial Officer (CFO) Huawei Technologies Meng Wanzhou, yang dapat mendinginkan pembicaraan tentang penyelesaian konflik perdagangan antara kedua negara.

Pasar juga menghadapi ujian dari data payroll AS yang akan dirilis hari ini waktu setempat di tengah spekulasi pergolakan ekonomi setelah mampu mengalami pertumbuhan yang solid selama bertahun-tahun.

“Data payroll akan sangat penting dalam membantu memvalidasi apakah ekonomi memang melambat lebih cepat dari yang diperkirakan,” lanjutnya, seperti dilansir dari Reuters.

Gubernur The Fed Jerome Powell, dalam pernyataannya pada Kamis (6/12), menekankan kekuatan pasar tenaga kerja.

Di sisi lain, para ekonom dalam survei Reuters memproyeksikan peningkatan jumlah pekerjaan sebesar 200.000 pada November setelah mencatat lonjakan sebesar 250.000 pada Oktober.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top