Garudafood (GOOD) Perkuat Penetrasi di Pasar Ekspor Eksis

Emiten produsen makanan dan minuman PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. menargetkan kontribusi aktivitas ekspor ke pendapatan perseroan pada tahun depan dapat menanjak ke level 6%—9%.
Dara Aziliya | 07 Desember 2018 13:23 WIB
CEO PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. Hardianto Atmadja memberikan penjelasan tentang kinerja perusahaannya saat wawancara khusus dengan harian Bisnis Indonesia, di Jakarta, Rabu (5/12/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen makanan dan minuman PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. menargetkan kontribusi aktivitas ekspor ke pendapatan perseroan pada tahun depan dapat menanjak ke level 6%—9%.

Berdasarkan catatan perseroan, per April 2018 emiten dengan sandi GOOD tersebut membukukan pendapatan ekspor senilai Rp131,81 miliar atau hanya 4,6% dari total pendapatan perseroan pada empat bulan pertama 2018 yang sebesar Rp2,9 triliun.

CEO Garudafood Putra Putri Jaya Hardianto Atmadja pada Bisnis menuturkan, aktivitas ekspor akan menjadi salah satu fokus perseroan pada tahun depan. Meski demikian, pada 2019 porsinya belum akan mencapai double digit.

“Untuk business plan tahun depan, kami akan perkuat international market kami. Ada beberapa negara yang kami bisa garap dengan lebih intensif. Upaya itu akan menjadi source of growth kami tahun depan,” ungkap Hardianto di kantornya, Rabu (5/12/2018).

Saat ini, GOOD telah memasukkan produk ke lebih dari 20 negara dengan penjualan yang cukup besar di negara-negara Asia Tenggara dan India. Meski masih menyasar sejumlah pasar baru, perseroan membidik omzet yang lebih tinggi dari pasar-pasar yang sudah ada.

Hardianto menjelaskan ekspor perseroan ke negara-negara Asia Tenggara memang mengambil porsi paling besar dibandingkan negara lain karena negara tetangga tidak menerapkan pajak impor, dan kedekatan geografis perseroan yang memungkinkan biaya logistik yang kompetitif.

Pada tahun depan, manajemen akan fokus memperkuat pasar dengan menempatkan sumber daya di negara-negara sasaran ekspor dan menganalisis jalur distribusi secara terus-menerus. Jika skala ekonominya sudah cukup baik, perseroan akan mulai memasarkan melalui iklan-iklan.

“Pola seperti itu baru kami laksanakan di negara-negara Asean, India sudah mulai. Yang seperti ini akan kami fokuskan di tahun depan. Negara tambahin lain ada, tapi dengan fokus seperti ini, omzetnya akan makin besar meski negaranya sama,” kata Hardianto.

Dia optimistis target kontribusi yang lebih besar bisa tercapai. Berdasarkan catatan perseroan, saat awal menjajaki pasar ekspor yaitu pada 2012, kontribusi pengapalan ke luar negeri tidak sampai 1%. Kontribusi itu terus tumbuh hingga ke kisaran 5% saat ini.

Sementara itu, emiten yang baru melantai di bursa saham pada Oktober 2018 tersebut membidik belanja modal yang sama atau bahkan lebih besar pada tahun depan dibandingkan tahun ini. Pada 2018, perseroan menganggarkan capex Rp800 miliar yang sebagian besar sumbernya berasal dari pinjaman bank.

Direktur  Keuangan Garudafood Putra Putri Jaya Paulus Tedjosutikno menyampaikan sejauh ini penyerapan belanja modal perseroan sesuai dengan pipeline yang direncanakan sejak awal tahun. Dana tersebut digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari pengembangan produk hingga perluasan kapasitas pabrik.

“Untuk tahun depan itu kami tetap lihat kebutuhan dan potensinya. Setelah menjadi perusahaan terbuka, kami melihat opsi lain tapi masing-metode pendanaan pasti ada plus-minusnya. Akan bersumber dari mana, akan kami sesuaikan dengan kebutuhannya,” ungkap Paulus.
 

Tag : Aksi Korporasi, garudafood
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top