Dua Kebijakan Dorong Prospek Saham Rokok

Prospek saham rokok mengharum seiring dengan potensi peningkatan kinerja pada tahun depan. Salah satu faktor penting yang mendorong ialah rencana penetapan dua kebijakan oleh pemerintah yang disampaikan pada November ini.
Hafiyyan | 20 November 2018 22:53 WIB
Ilustrasi.

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek saham rokok mengharum seiring dengan potensi peningkatan kinerja pada tahun depan. Salah satu faktor penting yang mendorong ialah rencana penetapan dua kebijakan oleh pemerintah yang disampaikan pada November ini.

Kebijakan itu ialah, pertama, cukai rokok tidak akan meningkat pada 2019. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 2 November 2018.

Kedua, pada pekan lalu, pemerintah membeberkan 54 industri yang keluar dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Dari daftar tersebut, industri rokok termasuk rokok kretek, rokok putih, dan rokok lainnya keluar dari DNI.

Dengan demikian, relaksasi DNI di industri rokok mengundang Penanaman Modal Asing (PMA) masuk. Di sisi lain, perusahaan akan mendapat kemudahan dalam pengurusan perizinan.

Analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto menyampaikan, rencana kebijakan pemerintah memberikan sentimen positif bagi emiten rokok. Apalagi persoalan penetapan cukai yang selama ini membebani ongkos perusahaan hingga 50%-60% dari keseluruhan beban pokok.

“Namun, kami pelaku pasar tentunya masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah dan bentuk peraturannya seperti apa, khususnya soal tidak naiknya tarif cukai,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (19/11/2018).

Natalia menuturkan, dengan cukai yang stagnan margin pendapatan emiten rokok semakin menebal. Di sisi lain, volume penjualan berpotensi meningkat bila harga jual tidak terlalu dinaikkan mengikuti tarif cukai.

Dia pun merekomendasikan beli terhadap saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna dengan target harga masing-masing Rp84.000 dan Rp4.200 dalam 12 bulan ke depan. Dalam jangka pendek, investor juga mempertimbangkan faktor window dressing, sehingga saham berkapitalisasi besar seperti keduanya kembali dilirik.

Pada penutupan perdagangan Senin (19/11), saham GGRM turun 350 poin atau 0,45% menjadi Rp78.200. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp150,46 triliun dengan Price to Earning Ratio (PER) 19,59 kali.

Dalam waktu yang sama, saham HMSP turun 20 poin atau 0,58% menjadi Rp3.400. Kapitalisasi pasarnya sebesar Rp395,48 triliun dengan PER 30,63 kali.

Tag : emiten rokok
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top