Harga Batu Bara Menguat Saat Minyak Tertekan

Harga batu bara menguat pada akhir perdagangan Rabu (7/11/2018).
Renat Sofie Andriani | 08 November 2018 08:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara menguat pada akhir perdagangan Rabu (7/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Februari 2019 ditutup menguat 2,04% atau 2,10 poin di level US$104,95 per metrik ton.

Harga batu bara Newcastle kontrak Februari melanjutkan penguatannya pada hari kedua, setelah berakhir naik tipis 0,05% di posisi 102,85 pada Selasa (6/11).

Adapun di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 rebound dengan berakhir melonjak 2,19% atau 2 poin di level 93,35, setelah dua hari tertekan di zona merah.

Sebaliknya di Zhengzhou Commodity Exchange, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 terus melemah dan ditutup melorot 0,92% atau 5,8 poin di level 622,4 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin.

“Akumulasi yang cepat atas persediaan batu bara di pembangkit-pembangkit listrik telah memperlemah permintaan untuk pembelian,” jelas Nanhua Futures dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

Di sisi lain, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) terus turun ke level terendahnya sejak Maret, setelah laporan pemerintah AS menunjukkan peningkatan mingguan ketujuh berturut-turut dalam stok minyak mentah domestik dan lonjakan dalam produksi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember mengakhiri sesi perdagangan Rabu (7/11/2018) dengan melemah 0,9% atau 54 sen di level US$61,67 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari turun tipis 6 sen dan berakhir di level US$72,07 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London pada Selasa..

Dilansir Bloomberg, harga minyak di New York menambah rentetan penurunan terpanjangnya sejak 2014, setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan kenaikan persediaan minyak mentah AS sebesar 5,78 juta barel pekan lalu.

EIA juga melaporkan lonjakan produksi minyak mentah domestik ke rekornya yakni 11,6 juta barel per hari, sedangkan stok di Cushing, Oklahoma, meningkat sebesar 2,42 juta barel.

Padahal harga minyak sempat naik pada awal sesi didukung laporan bahwa OPEC dan sekutu-sekutunya sedang mempertimbangkan langkah baru terkait pemangkasan produksi.

“Pada dasarnya, terlalu banyak persediaan dan terlalu cepat,” kata Rob Thummel, managing director di Tortoise, yang mengelola aset-aset terkait energi senilai US$16 miliar.

“Itu membuat pasar kewalahan dan mengambil beberapa momentum dari harga minyak mentah. OPEC mungkin harus menilai ulang dan mempertimbangkan pemangkasan produksi untuk 2019 di titik ini.”

Harga minyak acuan AS berada di wilayah pasar yang bearish setelah diperdagangkan di atas US$76 per barel pada awal Oktober. Dengan ini, harga minyak telah turun selama delapan hari berturut-turut.

Para Menteri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan berkumpul di Abu Dhabi akhir pekan ini guna membahas opsi untuk 2019, termasuk kemungkinan pemangkasan produksi lagi tahun depan.

Sementara itu, pemerintah AS memperkirakan bahwa produksi minyaknya sendiri akan meningkat dengan laju tercepatnya tahun ini. 

“Penurunan ini telah cukup bertahan dan tak henti-hentinya,” kata Rob Haworth dari US Bank Wealth Management di Seattle. "Secara teknis, investor bertanya-tanya di titik mana ini akan berhenti.”

Pergerakan harga batu bara kontrak Februari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

7 November

104,95

(+2,04%)

6 November

102,85

(+0,05%)

5 November

102,80

(-0,10%)

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top