Bursa Asia Sepi Perdagangan, IHSG Menguat Tipis pada Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,02% atau 0,97 poin ke level 5.921,56 pada akhir sesi I, setelah dibuka menguat 0,37% atau 21,73 poin ke level 5.942,32.
Aprianto Cahyo Nugroho | 06 November 2018 13:09 WIB
Seorang pria melintasi layar elektronik pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (19/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan menguat tipis pada pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (6/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,02% atau 0,97 poin ke level 5.921,56 pada akhir sesi I, setelah dibuka menguat 0,37% atau 21,73 poin ke level 5.942,32.

Sepanjang perdagangan sesi I IHSG bergerak di level 5.917,79–5.959,97. Sebanyak 192 saham menguat, 156 saham melemah, dan 265 saham stagnan dari 612 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Jumat siang.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan United Tractors Tbk (UNTR) yang masing-masing menguat 0,72% dan 3,14% menjadi penopang utama terhadap pergerakan IHSG pada akhir sesi I.

Lima dari sembilan sektor menguat ke zona hijau, dipimpin sektor tambang dan perdagangan yang masing-masing menguat 0,97% dan 0,61% pada akhir sesi I.

Di sisi lain, empat sektor melemah dan membatasi penguatan IHSG lebih lanjut, dipimpin sektor aneka industri yang melemah 2,03%.

Aktivitas perdagangan saham di Asia Tenggara cenderung sepi hari ini karena indeks FTSE Straits Time Singapura dan FTSE Malay KLCI tidak membuka aktivitas perdagangan. Adapun indeks SE Thailand dan PSEi Filipina menguat masing-masing 0,55% dan 0,06%.

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing menguat 1,24% dan 1,08%, sedangkan indeks Hang Seng melemah 0,19%.

Pergerakan bursa saham di Asia hari ini dibayangi penantian investor terhadap hasil pemilu paruh waktu AS yang akan diselenggarakan pada Selasa waktu setempat.

Investor umumnya memperkirakan Partai Demokrat akan mengambil alih kendali di Dewan Perwakilan Rakyat (AS), sedangkan Partai Republik Trump diperkirakan akan tetap mendominasi di Senat.

Meski kemacetan politik antara Gedung Putih dan Kongres dapat menghalangi agenda probisnis yang diusung Trump serta meningkatkan ketidakstabilan politik, termasuk dengar pendapat yang berpusat pada pemerintah, beberapa analis mengatakan hasil macam ini mungkin sudah diperhitungkan oleh investor.

Jika kubu Republik mempertahankan mayoritas mereka di DPR, bursa saham global cenderung akan rally didorong harapan pemangkasan pajak lebih lanjut oleh pemerintah AS.

Bulan lalu, Trump mengatakan pemerintahannya berencana menghasilkan resolusi yang menyerukan pemotongan pajak sebesar 10% untuk rumah tangga berpenghasilan menengah.

“Semua orang masih ingat kuatnya rally ekuitas setelah Trump terpilih [sebagai Presiden AS] dua tahun lalu. Jadi, awalnya pasar saham akan naik,” kata Norihiro Fujito, kepala strategi investasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.

“Tetapi pemangkasan pajak lebih lanjut akan meningkatkan defisit fiskal yang sudah besar serta mendorong imbal obligasi AS bertenor 10 tahun di atas level tingginya pada Oktober hampir seketika. Mengingat kenaikan imbal hasil obligasi AS memicu koreksi pada ekuitas bulan lalu, setiap rally dalam pasar saham tidak akan bertahan lama,” tambahnya.

Banyak investor juga memperkirakan Trump akan terus mengambil sikap keras terhadap isu perdagangan, terlepas dari apa pun hasil pemilu paruh waktu nanti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top