Mirae Asset Sekuritas: Pasar SUN Terpapar Sejumlah Sentimen Negatif

Harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder akan bervariasi pada perdagangan hari ini, Jumat (26/10/2018), dengan kecenderungan kembali menurun terbatas. Hal itu, dipicu kenaikan yield US Treasury dan proyeksi depresiasi rupiah terhadap dolar AS hari ini merespons sentimen negatif global pada perdagangan global semalam.
Emanuel B. Caesario | 26 Oktober 2018 09:36 WIB
Lelang Surat Utang Negara - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder akan bervariasi pada perdagangan hari ini, Jumat (26/10/2018), dengan kecenderungan kembali menurun terbatas.

Hal itu, dipicu kenaikan yield US Treasury dan proyeksi depresiasi rupiah terhadap dolar AS hari ini merespons sentimen negatif global pada perdagangan global semalam.  

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa tekanan dari global bagi harga SUN kembali meningkat setelah cenderung hawkishnya hasil pertemuan kebijakan moneter ECB terutama pasca Mario Draghi menyatakan bahwa inflasi Kawasan Euro diperkirakan masih akan meningkat jelang akhir tahun ini. 

Meski demikian, mereka meyakinkan pasar bahwa kebijakan QE masih akan berlangsung hingga akhir tahun ini dan suku bunga acuan masih akan dipertahankan di level 0% setidaknya hingga musim panas tahun depan. 

Sentimen negatif lainnya, berasal dari rilis data penjualan produk bahan baku atau tahan lama (durable goods) per September 2018 yang di luar ekspektasi pasar tumbuh sebesar 0,8% (MoM) dibandingkan dengan prediksi terjadi penurunan sebesar 1% (MoM). 

Rilis data tersebut,  pada akhirnya mendorong kenaikan indeks dolar AS ke kisaran 96,60 poin (sebelumnya di kisaran 96,43 poin) dan yield US Treasury 10 tahun ke level 3,12% (sebelumnya 3,10%). 

Namun demikian, sentimen negatif dari global tersebut cenderung diminimalisir oleh sentimen positif dari turunnya risiko pasar modal global (tercermin dari turunnya CBOE Volatility Index (VIX) sebesar 4% ke level 24,22 poin) setelah beberapa bursa global, khususnya AS, mengalami rebound pada perdagangan semalam.

Dhian mengatakan, didasarkan pada pergerakan harga kemarin dan proyeksi kecenderungan turunnya harga SUN hari ini, seri-seri yang masih menawarkan imbal hasil menarik diantaranya FR0053, FR0061, FR0070, FR0073,  dan FR0058. 

"Terkait dengan aksi short-term trading, kami masih menyarankan bagi investor untuk wait and see karena ada potensi penurunan harga SUN di pasar sekunder pada awal pekan depan (Senin) seiring masih adanya potensi sentimen negatif bagi harga SUN dari rilis data GDP AS dan inflasi (PCE) AS per kuartal III-2018 nanti malam," katanya dalam riset harian, Jumat (26/10/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023): 89,40 (8,48%) - 89,70 (8,39%)
FR0064 (15 Mei 2028): 83,65 (8,68%) - 84,15 (8,59%)
FR0065 (15 Mei 2033): 81,60 (8,90%) - 82,00 (8,85%)
FR0075 (15 Mei 2038): 85,50 (9,10%) - 86,00 (9,04%)

Kenaikan indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia, berpotensi mendorong rupiah terhadap dolar AS bergerak di kisaran Rp15.175 – Rp15.222 dengan kecenderungan melemah (depresiasi) hari ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top