Pasokan Turun, Harga Minyak AS Rebound

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil rebound dari pelemahannya, setelah penyuling mulai mengurangi proses perbaikan musiman sehingga mengindikasikan potensi lonjakan dalam permintaan untuk komoditas ini.
Renat Sofie Andriani | 25 Oktober 2018 06:58 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil rebound dari pelemahannya, setelah penyuling mulai mengurangi proses perbaikan musiman sehingga mengindikasikan potensi lonjakan dalam permintaan untuk komoditas ini.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember naik 39 sen dan mengakhiri sesi perdagangan Rabu (24/10/2018) di level US$66,82 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan sekitar 10% di atas rata-rata pergerakan 100 hari.

Meski demikian, harga minyak patokan global Brent untuk pengiriman Desember turun 27 sen dan berakhir di level US$76,17 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$9,35 terhadap WTI.

Dilansir Bloomberg, harga minyak mampu naik 0,6% di New York pada hari Rabu, meskipun kenaikan tersebut dibatasi oleh laporan pemerintah yang menunjukkan peningkatan lebih besar dari perkiraan dalam stok minyak mentah AS.

Energy Information Administration (EIA) pada Rabu melaporkan bahwa pasokan minyak mentah domestik meningkat 6,35 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan rata-rata estimasi sebesar 3,7 juta barel dalam survei Bloomberg.

Sementara itu, para penyuling mulai meningkatkan aktivitasnya dari tingkat yang terakhir terlihat pada bulan Maret dan stok bensin AS menurun dengan laju tercepatnya dalam tujuh bulan. Pasokan bensin dilaporkan turun 4,83 juta barel dan minyak distilat turun untuk pekan kelima berturut-turut.

“Memang terlihat penurunan yang cukup besar pada bensin dan minyak distilat,” ujar Brian Kessens, yang membantu mengelola aset energi senilai $ 16 miliar di Tortoise di Leawood, Kansas, seperti dikutip Bloomberg.

Tetap saja, harga minyak di New York berada di jalur untuk penurunan bulanan terburuknya sejak Juli 2016 setelah Arab Saudi berjanji untuk mengisi kekurangan pasokan saat ekspor Iran berkurang akibat sanksi AS.

Keraguan yang berkepanjangan mengenai kasus pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi, Jamal Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul, menambahkan premi risiko geopolitik ke dalam pasar minyak mentah.

Tag : Harga Minyak
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top