Terregra Asia (TGRA) Operasikan PLTS di Australia pada Kuartal I/2019

Emiten yang bergerak di bidang bisnis Energi Baru Terbarukan (EBT) PT Terregra Asia Energy Tbk. (TGRA) akan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Australia pada kuartal I/2019.
Hafiyyan | 22 Oktober 2018 12:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten yang bergerak di bidang bisnis Energi Baru Terbarukan (EBT) PT Terregra Asia Energy Tbk. (TGRA) akan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Australia pada kuartal I/2019.

Wakil Direktur Utama Terregra Asia Energy Lasman Citra menyebutkan, saat ini perusahaan dalam tahap pemilihan kontraktor Engineering, Procurement and Construction (EPC) dalam ekspansi bisnis PLTS ke Australia. Direncanakan pada kuartal I/2019 PLTS berkapasitas 10 MW dapat beroperasi.

“Kuartal I/2019 akan beroperasi 10 MW, saat ini sedang tahap pemilihan EPC untuk PLTS nya,” tuturnya kepada Bisnis, pada pekan kemarin.

Melalui anak usahanya Terregra Renewables Pty. Ltd., perusahaan tengah merintis pengembangan 6 proyek PLTS di Australia berkapasitas total 29 MW.

Namun demikian, manajemen TGRA memberikan batasan ekspansi PLTS di Australia maksimal 50 MW. Pasalnya, perusahaan memilih fokus mengembangkan bisnis di Indonesia karena potensi bisnis EBT di dalam negeri sangat besar.

Lasman mengungkapkan, ada dua alasan perusahaan ekspansi ke Australia, yakni regulasi setempat yang mendukung penggunaan EBT dan potensi radiasi matahari yang lebih bagus. Di Indonesia penyerapan energi matahari untuk PLTS secara efektif berkisar 4—5 jam, sedangkan di Australia mencapai 6—7 jam.

"Di Australia juga tingkat polusi lebih rendah sehingga penyerapan matahari lebih efektif. Tarifnya juga bagus," ujarnya.

Menurutnya, pengembangan PLTS hanya membutuhkan waktu 3—6 bulan. Dengan demikian, perusahaan bisa mendulang untung lebih cepat sambil mengerjakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang baru beroperasi pada tahun depan. 

Dalam rencana perusahaan, TGRA sedang mengerjakan 11 proyek berkapasitas 445 MW yang mencakup 9 PLTMH di Sumatera Utara dan 2 PLTA di Aceh.  Ada 4 PLTMH yang ditargetkan selesai pada 2019, yakni Batang Toru 3 (10 MW), Sisira (9,8 MW), Raisan 1 (7 MW), Raisan 2 (7 MW).

Lasman menuturkan, perseroan juga akan merilis informasi mengenai ekspansi PLTS skala kecil untuk rooftop di Bali. Sebelumnya, fasilitas pembangkit ini direncanakan dipasang di atap hotel dan pusat perbelanjaan.

“Untuk proyek di Bali, dalam waktu dekat akan kami rilis informasinya,” imbuhnya.

Dia menambahkan, per September 2018 perusahaan merealisasikan belanja modal senilai Rp50 miliar. Jumlah serapan dapat mencapai Rp150 miliar pada akhir tahun ini.

Terkait rencana penerbitan surat utang Rp500 miliar, perusahaan masih membahasnya secara internal. TGRA sebelumnya sudah mendapat persetujuan  Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Mei 2018 untuk menambah modal melalui penerbitan surat utang dengan nilai maksimal Rp500 miliar.

Namun, bentuk surat utang seperti obligasi, obligasi konversi (convertible bond), ataupun medium term notes (MTN) masih dalam pembahasan. Menurut Lasman, hingga 2023 perusahaan menargetkan mengoperasikan pembangkit listrik sekitar 500 MW dengan kebutuhan belanja modal sekitar US$1 miliar.

Tag : korporasi, PT Terregra Asia Energy Tbk.
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top