Pascagempa, Emiten Ritel Lakukan Pemulihan

Kalangan peritel mulai melakukan pemulihan gerai-gerai yang berada di Palu dan Donggala.
Novita Sari Simamora | 09 Oktober 2018 20:20 WIB
Logo Ramayana - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Kalangan peritel mulai melakukan pemulihan gerai-gerai yang berada di Palu dan Donggala.

Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo mengatakan, perseroan memiliki satu gerai di Grand Palu. Dia mengungkapkan, kondisi gerai telah beroperasi dengan bantuan genset.

"Kami sempat tutup, karena semua tutup dan listrik tidak ada. Pada 7 Oktober 2018, kami sudah beroperasi menggunakan genset untuk kebutuhan listrik," katanya, Senin (8/10/2018).

Miranti mengungkapkan gerai di Palu berkontribusi sekitar 1% terhadap pendapatan perseroan. Nilai pendapatan emiten bersandi saham LPPF per Juni 2018 senilai Rp5,91 triliun. Maka ,pendapatan dari gerai di Palu, 1% dari pendapatan perseroan yakni sekitar Rp59 miliar selama 6 bulan.

Kerusakan gerai dan hilangnya barang akibat dari tsunami dan gempa, kata Miranti, masih dalam proses klaim kepada pihak asuransi.

Adapun, duka itu tak hanya dialami LPPF, tetapi juga PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.  juga mengalami hal tersebut.  Setyadi Surya, Corporate Secretary PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. mengungkapkan, perseroan memiliki gerai di dalam Mal Tatura. Gerai tersebut mengalami kerusakan akibat bencana alam.

Kini emiten bersandi saham RALS tengah mengkalkulasi kerugian yang dialami akibat bencana alam. Dia mengatakan, sebanyak 216 orang di Ramayana Tatura dalam keadaan selamat dan 3 orang karyawan mengalami cedera.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya mengungkapkan, bahwa gerai Ramayana di Palu menyumbang sekitar 1% dari pendapatan kotor RALS pada 2017, senilai Rp8,15 triliun. Dengan demikian, pendapatan kotor di Palu pada 2017 sekitar Rp81,5 miliar.

Christine menuliskan dalam riset medio Oktober 2018, setiap toko biasanya memiliki rasio stok terhadap menjualan sekitar 3 bulan-3,5 bulan. Dengan kata lain, setiap toko memiliki persediaan untuk tiga bulan. 

"Dengan sekitar Rp80 miliar pendapatan per tahun, kami memperkirakan toko di Pali menyumbang sekitar Rp6-7 miliar per bulan," tulis Christine.

Dia mengungkapkan, RALS juga mencatatkan kehilangan persediaan akibat bencana alam, dengan nilai sekitar Rp20 miliar. Dia menambahkan, tidak semua persediaan di toko Palu adalah milik  perusahaan, karena  sekitar 31%.

Christine mengungkapkan, pendapatan  konsolidasi  dari  department store  dan  supermarket  Palu  menjadi  sedikit lebih rendah karena peluang hilangnya pendapatan untuk sisa bulan tahun ini.

Dia menilai, gerai di Palu akan tutup hingga waktu yang tak bisa diduga, sehingga Mirae mengurangi asumsi 1 gerai. Hal tersebut berdampak pada asumsi pendapatam RALS yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Kendati begitu, Christine tetap mempertahankan rekomendasi untuk Ramayana. Adapun target harga saham RALS hingga akhir tahun diprediksi lebih rendah di Rp1.610 per saham.

Tag : ritel, kinerja emiten, peritel, Gempa Palu
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top