Arab Saudi Janjikan Tambah Produksi, Harga Minyak Mentah Tergelincir

Harga minyak melanjutkan pelemahan selama tiga hari karena adanya tanda bahwa potensi dampak dari sanksi Amerika Serikat kepada Iran mendatang yang diperkirakan akan mengancam pasokan bisa dimitigasi.
Mutiara Nabila | 08 Oktober 2018 21:37 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak melanjutkan pelemahan selama tiga hari karena adanya tanda bahwa potensi dampak dari sanksi Amerika Serikat kepada Iran mendatang yang diperkirakan akan mengancam pasokan bisa dimitigasi.

Pada perdagangan Senin (8/10), harga minyak Brent kembali memerah hingga 1,27 poin atau 1,51% menjadi US$82,89 per barel dari penutupan perdagangan hari sebelumnya dan mencatatkan kenaikan harga hingga 23,96% sepanjang 2018 berjalan.

Penurunan harga tersebut melanjutkan retret 2,5% pada dua sesi sebelumnya karena Arab Saudi mengatakan mampu dan bersedia mengisi kapasitas produksi tambahannya secepatnya untuk mengimbangi penyusutan pasokan dari ekspor minyak Iran.

Sementara itu, pihak AS mengatakan akan melakukan diskusi dengan sejumlah negara agar melanjutkan pembelian dari Persian Gulf setelah Amerika mengaktifkan tarif pada Iran pada 4 November mendatang.

Analis komoditas di Hyundai Futures Corp. Will Yun mengatakan bahwa harga minyak saat ini merespons pada tindakan Arab Saudi yang berkomitmen untuk menggantikan penurunan jumah pasokan dari Iran sehingga menenangkan ketakutan pasar akan adanya gangguan pasokan.

“Melihat kondisi saat ini, investor masih bersikap wait-and-see terkait dengan besaran tambahan pasokan yang akan dikeluarkan oleh Arab Saudi, sehingga investor dan trader masih mengkhawatirkan pergerakan harga jangka pendek hingga kondisi terkait sanksi itu jelas pada bulan depan,” paparnya, dilansir dari Bloomberg, Senin (8/10/2018).

Harga minyak sebelumnya sempat diperdagangkan mendekati titik tertinggi selama empat tahun yang mencapai US$100 per barel dengan melewati posisi US$85 per barel karena adanya kekhawatiran bahwa Republik Islam akan menyusutkan pengiriman dan memicu kekurangan pasokan bersamaan dengan gangguan pasokan yang sudah terjadi sebelumnya dari Venezuela dan Libya.

Investor masih mengkhawatirkan bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya tidak akan meningkatkan produksi dengan cukup cepat dan negara itu tidak punya kapasitas yang cukup untuk menggantikan volume yang hilang.

Selain Brent, pada sesi perdagangan yang sama, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,93 poin atau 1,25% menjadi US$73,41 per barel dan mencatatkan kenaikan harg hingga 21,50% secara year-to-date (ytd) dengan total volume yang diperdagangkan mencapai 7% di atas rata-rata 100 hari.

Menuruti kemauan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menahan kenaikan harga, Pangeran Arab Saudi Mohammed Bin Salman mengatakan bahwa negara pengekspor minyak terbesar di dunia itu akan melakukan tugasnya untuk memompa minyak mendekati level rekor.

“Produksi dari produsen teratas OPEC saat ini mencapai 10,7 juta barel per hari. Jumlah tersebut juga bisa bertambah sampai 1,3 juta barel dari sisa kapasitas yang ada kalau pasar memerlukan,” ujar Mohammed.

Pangeran Saudi itu juga mengungkapkan bahwa dirinya hampir mencapai kesepakatan dengan Kuwait untuk melanjutkan produksi di ladang minyak milik kedua negara yang diperkirakan bisa memproduksi hingga 500.000 barel per hari.

Ladang minyak Khafji dan Wafra itu berlokasi di Zona Netral, yang berada di perbatasan kedua negara dan sudah berhenti beroperasi hampi seabad.

Di AS, pemerintah Trump sedang melakukan diskusi dengan negara lain yang masih mau melanjutkan impor minyak dari Iran setelah sanksi berlaku. Adapun, pihak AS mengungkapkan bahwa China akan memangkas impornya lebih dari yang diperkirakan, sedangkan India masih belum memberikan kepastian.

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top