Kinerja Saham Garuda Tertekan Penguatan Dolar

Harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengawali pekan ini pada kondisi stagnan. Harga saham perusahaan ditutup sama dengan penutupan akhir pekan lalu mencapai Rp202. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona hijau pada level 5.761,07
Purnama Syukri Hadi | 08 Oktober 2018 19:50 WIB
Petugas Garuda Indonesia Maintenance Facilities (GMF AeroAsia) memeriksa hidrolik pesawat Garuda Indonesia Boeing 777 - 300ER. - Antara/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA—Harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengawali pekan ini pada kondisi stagnan. Harga saham perusahaan ditutup sama dengan penutupan akhir pekan lalu mencapai Rp202. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona hijau pada level 5.761,07.

Secara year to date harga saham berkode GIAA turun 32,76% dibandingkan dengan IHSG yang hanya turun 9,36% (ytd). Hal tersebut menjadikan kinerja saham Garuda Indonesia underperform terhadap kinerja IHSG.

Secara fundamental, sepanjang semester pertama 2018 penjualan perusahaan membukukan kenaikan sebesar 5,92% menjadi US$1,99 miliar jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1,88 miliar.

Meskipun penjualan perusahaan menunjukkan kenaikan, perusahaan maskapai penerbangan ini masih mengalami kerugian. GIAA mencatatkan kerugian senilai US$113,96 juta pada Juni 2018, lebih kecil 59,84% dari periode Juni 2017 yang mengalami rugi mencapai US$283,75 juta.

Kinerja perusahaan tersebut masih mendapat tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah yang disebabkan sebagian besar struktur biaya perusahaan dikeluarkan dalam denominasi dolar. Sebanyak 75% pengeluaran perusahaan dalam nilai dolar AS dan hanya 35%-40% pendapatan perusahaan dalam dolar AS.

Beberapa waktu lalu, perusahaan berpelat merah ini telah melayangkan gugatan kepada Rolls Royce atas kecurangan yang terjadi pada perjanjian TotalCareTM Agreement for the Trent 700 Engine Powered Airbus A330-300 Aircraft. Upaya hukum ini dilakukan perusahaan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan Good Corporate Gorvernance (GCG) perusahaan yang baik. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap harga saham perusahaan.

Selain itu, GIAA mendapatkan pinjaman dari BRI untuk fasilitas pinjaman non cash loan berupa fasilitas Standby Letter of Credit sebesar US$200 juta. Garuda Indonesia berencana menggunakan pinjaman tersebut untuk dana perawatan pesawat.

Secara teknikal, harga saham GIAA relative lebih mahal dengan forward P/E ratio 7,8 kali (di atas rata-rata historis 5 tahun dengan nilai forward P/E ratio sebesar 5,9 kali) sepanjang 2018. Berdasarkan indikator RSI, saham Garuda berada pada konsidi jenuh jual (oversold) dan pada indicator MACD menunjukkan momentum masih negatif.

Sumber: Bloomberg

*) Purnama Syukri Hadi, analis Bisnis Indonesia Resources Center

Tag : IHSG, garuda indonesia
Editor : Aprillian Hermawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top