MNC Sekuritas: Persepsi Risiko Meningkat, Harga SUN Berpotensi Melemah

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpeluang untuk mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (5/10/2018), di tengah meningkatnya persepsi risiko serta penguatan mata uang dolar AS terhadap mata uang utama dunia. 
Emanuel B. Caesario | 05 Oktober 2018 09:28 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpeluang untuk mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (5/10/2018), di tengah meningkatnya persepsi risiko serta penguatan mata uang dolar AS terhadap mata uang utama dunia. 
 
Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan pelaku pasar masih akan mencermati data cadangan devisa yang akan disampaikan oleh Bank Indonesia (BI). Penurunan angka cadangan devisa yang cukup besar akan menjadi katalis negatif bagi nilai tukar rupiah dan di pasar surat utang. 

Selain itu, penurunan harga akan dipengaruhi agenda lelang penjualan SUN yang dijadwalkan dilakukan pada Selasa (9/10/2018). Lelang tersebut memiliki target indikatif Rp10 triliun dan target maksimal Rp20 triliun. 

Untuk faktor eksternal, pelaku pasar masih akan mencermati data sektor tenaga kerja AS.
 
"Dengan masih berpeluang turunnya harga SUN di pasar sekunder, maka kami masih menyarankan investor untuk melakukan strategi trading jangka pendek dengan pilihan pada SUN tenor pendek dan menengah," paparnya dalam riset harian, Jumat (5/10).
 
Made menerangkan dalam beberapa hari terakhir, harga SUN tenor pendek cenderung mengalami kenaikan sedangkan pada tenor panjang terlihat mengalami penurunan seiring dengan tren kenaikan imbal hasil surat utang global. 
 
Hal tersebut mengidikasikan bahwa investor lebih memilih instrumen bertenor pendek guna mengantisipasi gejolak harga di pasar sekunder. 
 
Beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN) yang dapat dijadikan pilihan pada perdagangan hari ini adalah ORI013, ORI014, FR0053, FR0061, FR0043, FR0063, FR0046, FR0077, dan FR0059.
 
Sementara itu, pada perdagangan Kamis (4/10), yield SUN naik didorong meningkatnya imbal hasil US Treasury dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Perubahan tingkat imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin mencapai 21 bps, dengan rata-rata mengalami kenaikan sebesar 11 bps dan kenaikan imbal hasil yang cukup besar terjadi pada tenor 3-20 tahun. 
 
Yield SUN tenor pendek bergerak bervariasi dengan perubahan hingga 20 bps, yang didorong perubahan harga sebesar 55 bps. Sementara itu, untuk tenor menengah terjadi kenaikan hingga 19 bps yang didorong koreksi harga sebesar 85 bps. 
 
Adapun SUN tenor panjang terlihat mengalami kenaikan yield antara 3-21 bps, yang disebabkan penurunan harga SUN yang mencapai 130 bps.
 
Kondisi ini dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil US Treasury dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Rabu (3/10), imbal hasil US Treasury meningkat cukup besar sebagai respons atas ekspektasi perbaikan ekonomi AS yang tercermin pada beberapa indikator ekonominya. 
 
Kenaikan yield US Treasury juga merespons pernyataan Gubernur The Fed yang memberikan sinyal akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan sebesar 104 pts atau 0,69%, dan ditutup di level Rp15.179. Sejalan dengan pelemahan mata uang regional, nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin bergerak di kisaran Rp15.120-Rp15.191,5 per dolar AS.
 
Secara teknikal, indikatornya menunjukkan bahwa SUN semakin mendekati tren perubahan harga seiring dengan penurunan harga yang terjadi pada beberapa hari terakhir. Apabila penurunan harga berlanjut pada perdagangan hari ini, maka sinyal perubahan tren dari tren kenaikan harga menjadi tren penurunan harga akan terbentuk. 

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top