Bursa Asia Memerah Pascarilis Fed Rate, Putusan BI Angkat IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mempertahankan reboundnya bahkan menguat hampir 1% pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (27/9/2018).
Renat Sofie Andriani | 27 September 2018 18:13 WIB
Bursa Kospi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mempertahankan reboundnya bahkan menguat hampir 1% pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (27/9/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,95% atau 55,94 poin di level 5.929,22. Padahal, indeks sempat melanjutkan koreksinya saat dibuka turun 0,03% atau 1,84 poin di level 5.871,43.

Rebound IHSG hari ini sekaligus mematahkan pelemahan yang dibukukan tiga hari berturut-turut sebelumnya. Adapun pada perdagangan Rabu (26/9), IHSG berakhir terkoreksi tipis 0,02% di posisi 5.873,27.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak cenderung fluktuatif pada level 5.870,54-5.931,72.

Sektor konsumer (+2,20%) dan industri dasar (+1,40%) memimpin di antara delapan sektor mendongkrak penguatan IHSG di akhir perdagangan, sedangkan sektor pertanian menetap sendiri di zona merah dengan turun 0,27%.

Dari 602 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 185 saham menguat, 156 saham melemah, dan 261 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang naik 2,95% menjadi pendorong utama terhadap penguatan IHSG, diikuti saham BBRI (+2,68%), UNVR (+2,33%), dan GGRM (+3,09%).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berhasil mempertahankan reboundnya pada perdagangan hari ini, mematahkan koreksi selama tiga hari berturut-turut sebelumnya. Indeks Bisnis 27 berakhir menguat 1,16% atau 5,97 poin di level 518,31, meskipun dibuka turun 0,12% di posisi 511,72.

IHSG terpantau membukukan kenaikan terbesar di antara indeks saham lainnya di Asia sore ini, setelah Bank Indonesia (BI) dalam rapat kebijakan moneternya memutuskan mengerek suku bunga acuannya.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 26-27 September 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate 25 bps menjadi level 5,75%.

Dengan demikian, suku bunga Deposit Facility sebesar 5%, dan suku bunga Lending Facility 6,5%, berlaku efektif sejak 28 September 2018. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut konsisten dengan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas yang aman serta mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik sehingga dapat memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian yang tinggi.

“BI juga akan terus mengawasi perkembangan di defisit transaksi berjalan, nilai tukar dan stabilitas sistem keuangan serta inflasi untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan,” tambah Perry, dalam paparan RDG.

Sementara itu, indeks saham lainnya di Asia Tenggara bergerak variatif sore ini dengan indeks SE Thailand (+0,05%), indeks FTSE Malay KLCI (0%), indeks PSEi Filipina (+0,72%), dan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,09%).

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup melemah 1,18% dan 0,99%. Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing berakhir turun 0,54% dan 0,40%. Indeks Hang Seng Hong Kong juga berakhir di zona merah dengan turun 0,36%.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia melemah saat investor mencermati risiko berkelanjutan dari perselisihan perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS), selain keputusan Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga serta indikasi kenaikan lebih lanjut sebelum akhir tahun.

Indeks MSCI AC Asia Pacific turun 0,4% pada pukul 4.42 sore waktu Hong Kong.

Ketegangan antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Yang terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya dan Presiden Cina Xi Jinping mungkin tidak lagi berteman.

Komentarnya itu disampaikan setelah Trump menuding pemerintah China telah mencoba ikut campur dalam pemilihan kongres AS pada November.

Sementara itu, bank sentral AS Federal Reserve dalam rapat kebijakan moneternya yang berakhir Rabu (26/9) memutuskan menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) serta menegaskan kembali bahwa ekonomi yang kuat mungkin akan menjamin kenaikan lebih lanjut hingga 2019.

“Pasar telah berjalan dengan sedikit reaksi terhadap langkah yang telah diantisipasi itu [kenaikan suku bunga The Fed]” kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar untuk Asia Pasifik di CMC Markets, seperti dilansir dari Bloomberg.

“Risiko utama dalam jangka pendek terhadap pasar tetap merupakan eskalasi perselisihan perdagangan lebih lanjut antara AS dan China.”

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

HMSP

+2,95

BBRI

+2,68

UNVR

+2,33

GGRM

+3,09

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

BBCA

-0,83

MAPA

-7,39

NIKL

-5,08

SRTG

-4,88

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top