Investor Cermati Pernyataan The Fed, Wall Street Berakhir Memerah

Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berbalik ke zona negatif tepat sebelum mengakhiri pergerakannya pada perdagangan Rabu (26/9/2018), setelah investor mencermati kembali pernyataan kebijakan Federal Reserve.
Renat Sofie Andriani | 27 September 2018 05:59 WIB
Bursa AS

Bisnis.com, JAKARTA – Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berbalik ke zona negatif tepat sebelum mengakhiri pergerakannya pada perdagangan Rabu (26/9/2018), setelah investor mencermati kembali pernyataan kebijakan Federal Reserve.

Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,33% di 2.905,97, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,4% di level 26.385,28, dan indeks Nasdaq Composite berakhir turun 0,21% di level 7.990,37.

Padahal, bursa saham AS sebelumnya mampu memperpanjang kenaikan setelah The Fed, seperti yang diperkirakan, menaikkan suku bunga dan mempertahankan prospek kebijakan moneternya untuk tahun-tahun mendatang. Langkah ini dilakukan di tengah pertumbuhan ekonomi yang stabil dan pasar kerja yang kuat.

The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 2%-2,25%.

Namun, pasar kemudian berbalik arah setelah investor mencermati sampai sejauh mana penghapusan kata "akomodatif" dari pernyataan kebijakan Fed menunjukkan bahwa berakhirnya siklus kenaikan suku bunga mungkin akan terlihat.

“Pelaku pasar salah menafsirkan penghapusan kata 'akomodatif' dalam pernyataan tersebut,” kata Mike O'Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading, seperti dilansir dari Reuters.

“Pasar menyadari kebijakan moneter tetap di jalurnya dan ada ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Mereka melepaskan pembelian yang mereka lakukan akibat rilis pernyataan itu.”

Indeks finansial pada S&P 500 pun melorot 1,27% sekaligus mendorong pelemahan pada akhir sesi perdagangan,

Adapun indeks utilitas dan real estate S&P 500, yang sensitif terhadap suku bunga karena komponennya seringkali lebih disukai untuk imbal hasil dividen, masing-masing turun lebih dari 1%.

Dalam pertemuan kebijakan yang berakhir Rabu (26/9) waktu setempat, The Fed masih memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada bulan Desember, tiga kali kenaikan pada tahun depan, dan satu kali pada 2020.

Setelah pertemuan, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral AS tersebut memantau ketat inflasi serta menggarisbawahi kekhawatiran pertumbuhan ekonomi AS yang cepat dapat menyebabkan kondisi yang terlalu panas dan memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Terkait penghapusan kata "akomodatif", Powell menanggapi, "Perubahan ini tidak menandakan perubahan dalam jalur kebijakan. Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kebijakan berjalan sesuai dengan harapan kami.”

Pasar saham telah menikmati periode penguatan dan berada pada level rekornya. Tetapi ketika suku bunga naik, ekuitas menghadapi persaingan yang meningkat karena dana investor tidak hanya dari obligasi, tetapi juga dari uang tunai, yang telah menjadi paling menarik dalam sekitar satu dekade.

Tag : wall street
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top