Rupiah Berhasil Rebound Saat Dolar AS Naik Jelang Rilis Putusan Fed

Nilai tukar rupiah berhasil rebound dari pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (26/9/2018), bahkan ketika dolar AS cenderung bergerak naik menjelang rilis keputusan pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve.
Renat Sofie Andriani | 26 September 2018 18:50 WIB
Pelanggan keluar dari gerai penukaran uang asing di Jakarta. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berhasil rebound dari pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (26/9/2018), bahkan ketika dolar AS cenderung bergerak naik menjelang rilis keputusan pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot rebound dengan ditutup terapresiasi 7 poin atau 0,05% di level Rp14.911 per dolar AS, mematahkan depresiasi selama dua hari berturut-turut sebelumnya.

BACA:

Mata uang Garuda bahkan sempat melemah hingga menyentuh level 14.944 setelah dibuka terdepresiasi 26 poin atau 0,17% pagi tadi. Meski cenderung tertekan, rupiah mampu mengikis pelemahannya hingga membukukan rebound.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.908 – Rp14.944 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Selasa (25/9), rupiah berakhir melemah 52 poin di Rp14.918 per dolar AS.

Beberapa mata uang di Asia ikut menguat petang ini, di antaranya rupee India dan peso Filipina, yang masing-masing menguat 0,12% dan 0,11%. Di sisi lain, yuan offshore China dan baht Thailand berada di antara yang terdepresiasi.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik 0,067 poin atau 0,07% ke level 94,200 pada pukul 17.13 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan 0,031 poin di level 94,164, setelah berakhir turun 0,052 poin atau 0,06% di posisi 94,133 pada Selasa (25/9).

Dilansir Reuters, penguatan bursa saham di China serta pembicaraan tentang kesepakatan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Argentina membantu menstabilkan ketegangan di pasar negara berkembang (emerging market) hari ini, menjelang rilis keputusan kebijakan moneter Federal Reserve AS.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya untuk yang kedelapan kalinya sejak akhir 2015 atau yang ketiga kalinya sepanjang tahun ini dalam pertemuan kebijakan yang berakhir pada hari ini waktu setempat.

Pasar negara berkembang sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS karena mempengaruhi biaya pinjaman mereka juga, terutama jika seperti halnya tahun ini, dolar AS menguat dan menekan mata uang mereka.

Namun, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing berhasil berakhir menguat 0,92% dan 1,11% pada perdagangan hari ini, setelah sempat terbebani pemberlakuan tarif impor AS pada sesi perdagangan sebelumnya.

Di sisi lain, Argentina, yang telah mengalami kemerosotan tahun ini, kembali mendapatkan perhatian pasar. Setelah bertemu dengan Presiden Mauricio Macri di New York, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan bahwa IMF “mendekati garis akhir” untuk kesepakatan bantuan baru.

Sejumlah mata uang emerging market pun ikut menguat, di antaranya rand Afrika Selatan dan lira Turki, masing-masing 0,44% dan 0,69% pada pukul 17.24 WIB hari ini. Mata uang lira juga mendapatkan dukungan dari Presiden Tayyip Erdogan yang menyatakan menghormati kebebasan bank sentral Turki.

Rupee India, yang telah menjadi mata uang berkinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini, menguat. Jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa bank sentral negara tersebut diperkirakan akan menaikkan suku bunganya pekan depan, meskipun kenaikan harga minyak akan terus membebani.

Sementara itu, sebanyak 27 dari 36 ekonom dalam survei Bloomberg memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dari posisinya saat ini 5,5% pada Kamis (27/9). Tujuh ekonom memprediksikan kenaikan sebesar 50 bps, sedangkan dua lainnya tidak melihat adanya perubahan.

“Indonesia dan Filipina akan menaikkan suku bunganya demi menjaga mata uangnya saat risiko tampak bertahan,” kata Joey Cuyegkeng, ekonom senior di ING Groep.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top