Volatitas Masih Tinggi, Infovesta Pangkas Target Return Reksa Dana Tahun Ini

PT Infovesta Utama merevisi turun target return sejumlah indeks reksa dana pada tahun ini seiring dengan adanya tren peningkatan suku bunga acuan serta masih tingginya volatilitas di pasar saham.
Tegar Arief | 26 September 2018 07:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — PT Infovesta Utama merevisi turun target return sejumlah indeks reksa dana pada tahun ini seiring dengan adanya tren peningkatan suku bunga acuan serta masih tingginya volatilitas di pasar saham.

Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan bahwa pihaknya memangkas target return yang dipatok perseroan pada awal tahun tahun ini. Ketika itu, Infovesta menargetkan keuntungan atau return reksa dana saham bisa mencapai 3,5%—5,5% pada pengujung 2018.

Adapun, reksa dana campuran diprediksi mencatatkan return 2,5%—3,5%, sedangkan reksa dana pendapatan tetap sekitar 1%—2%. Sementara itu, indeks reksa dana pasar uang ditargetkan menggapai return 5%—6%.

Namun, lantaran kondisi pasar saham dan obligasi yang belum kondusif, Infovesta memangkas target tersebut. Teranyar, Infovesta menargetkan return reksa dana saham mencapai 2%—3% pada tahun ini. Sementara itu, untuk reksa dana pendapatan tetap berpotensi mencatatkan return negatif, yakni sekitar -1% hingga -2%.

Untuk reksa dana pasar uang, Infovesta memprediksi return bisa lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar 4,48%. Tahun ini, return reksa dana pasar uang berpeluang menembus 4,5%—6%. Adapun, target yang dipatok tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.

"Kemarin kami merilis proyeksi sebelum ada volatilitas dan kenaikan suku bunga. Setelah ada kenaikan suku bunga tentu harus ada penyesuaian. Ini pada sisa tahun ada kemungkinan akan naik lagi," kata Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana, Selasa (25/9/2018).

Menurutnya, untuk reksa dana saham, peluang untuk mencatatkan kinerja positif masih cukup terbuka seiring dengan potensi moncernya kinerja sejumlah emiten tahun ini. Menurutnya, mulai kuartal IV/2018 kinerka reksa dana saham akan perlahan kembali ke jalur positif.

Saat ini, secara year-to-date (ytd) per 21 September 2018, kinerja indeks reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index tercatat -6,17%. "Secara fundamental emiten bagus, dan ini akan terlihat dalam laporan kuartal III/2018. Indeks memang tertekan, tapi selalu ada tren kembali ke level 6.000," imbuhnya.

Infovesta juga merevisi target indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada awal tahun ini, kata Wawan, perseroan memproyeksikan indeks berada pada level 6.800—6.900 pada akhir tahun. Angka itu kemudian direvisi menjadi 6.300—6.400 pada pengujung 2018.

Berbeda dengan reksa dana saham, Infovesta memprediksi return reksa dana pendapatan tetap tahun ini akan tercatat negatif seiring dengan adanya peluang kenaikan suku buka Bank Indonesia. Kenaikan suku bunga BI tersebut sejalan dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat mengindikasikan kenaikan bunga acuan. Per 21 September, return reksa dana pendapatan tetap tercatat -4,26%.

"Reksa dana pendapatan tetap akan negatif, terutama yang berbasis surat utang negara karena tahun ini suku bunga naiknya sangat signifikan," ujarnya.

Adapun untuk reksa dana campuran, menurutnya tergantung dari strategi masing-masing fund manager dalam membagi porsi investasinya. Data Infovesta menunjukkan bahwa hingga 21 September 2018, kinerja indeks reksa dana campuran tercatat -3,96%.

Sementara itu, reksa dana pasar uang diproyeksikan menjadi jenis reksa dana yang mencatatkan kinerja tertinggi pada tahun ini. Naiknya suku bunga acuan menjadi katalis positif bagi produk jenis ini. "Pasar uang bisa sampai 4,5%—5%, bahkan bisa lebih karena faktor suku bunga," ujar Wawan.

Analisis tak jauh beda disampaikan Direktur Utama PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana. Menurutnya, kinerja emiten akan mendongkrak laju indeks dan mengerek kinerja reksa dana dengan aset dasar saham.

Sektor yang cukup diunggulkan adalah perbankan, komoditas, dan konsumsi. Menurutnya, saat ini kredit yang disalurkan perbankan terus menggeliat sehingga akan berdampak positif terhadap pergerakan saham emiten perbankan.

Banyaknya kredit juga akan menggerakkan ekonomi masyarakat sehingga diyakini akan meningkatkan konsumsi. "Selain itu banyak proyek yang sedang dikebut pengerjaannya karena menjelang pemilu. Ini akan berdampak ke daya beli dan sektor konsumsi," kata dia.

Sementara itu, emiten sektor komoditas sangat diuntungkan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini dirasakan oleh sektor batu bara yang mayoritas produknya dipasarkan di luar negeri.

Jemmy memprediksi, rata-rata return yang akan dihasilkan oleh reksa dana saham pada pengujung tahun ini adalah 4%—5%, reksa dana pendapatan tetap sebesar 2%, dan reksa dana campuran sebesar 3%. Adapun, target IHSG yang dipatok oleh Sucorinvest hingga akhir tahun adalah 6.400.

 

Tag : reksa dana
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top