Tembaga & Seng Rebound, Catat Posisi Tertinggi Sebulan Terakhir

Harga tembaga rebound, melanjutkan kenaikan tajam pada sesi perdagangan sebelumnya dan menyentuh titik tertinggi selama satu bulan terakhir, diikuti dengan seng yang merangkak hampir 3% karena investor mulai tak memperdulikan kenaikan tensi perang dagang AS dan China.
Mutiara Nabila | 19 September 2018 20:58 WIB
Tembaga - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga rebound, melanjutkan kenaikan tajam pada sesi perdagangan sebelumnya dan menyentuh titik tertinggi selama satu bulan terakhir, diikuti dengan seng yang merangkak hampir 3% karena investor mulai tak memperdulikan kenaikan tensi perang dagang AS dan China.

China merespons serangan tarif terbaru dari AS ke barang impor senilai US$200 miliar, dengan mengenakan pajak 10% daripada perkiraan sebesar 25% kepada barang impor AS senilai US$60 miliar.

Analis bank ANZ Daniel Hynes mengatakan bahwa penerapan pajak 10% telah meningkatkan harapan bahwa intensitas perang dagang akan berkurang dan negosiasi selanjutnya akan berbuah manis.

“Pasar juga akan terdorong oleh laporan dari China yang akan mengambil langkah untuk mendukung permintaan domestiknya,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Rabu (19/9/2018).

Pada perdagangan Rabu (19/9), harga tembaga di bursa Shanghai Future Exchange mengalami kenaikan hingga 1.080 poin atau 2,23% menjadi 49.480 yuan per ton dan mencatatkan penurunan 12,72% secara year-to-date (ytd). Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak 14 Agustus lalu.

Sedangkan, harga tembaga di bursa London Metal Exchange (LME) mengalami reli 0,6% dari perdagangan hari sebelumnya kembali menembus US$6.000 per ton di posisi US$6.145 per ton. Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak 29 Agustus yang diperdagangkan dengan harga US$6.121,50 per ton.

Selain itu, harga seng Shanghai mengalami kenaikan 520 poin atau 2,51% menjadi 21.240 yuan per ton dan mengalami penurunan 16,41% sepanjang 2018. Harga seng Shanghai sempat menyentuh 21.665 yuan per ton, tertinggi sejak 9 Juli dan naik 2,9% dalam sebulan terakhir.

Stok seng di bursa LME tercatat mengalami penurunan ke level terendah sejak April, bersama dengan pasokan seng di Shanghai yang masih di bawah titik terendah selama sedekade.

Persediaan di dua bursa tersebut memang terus anjlok, bahkan ketersedian untuk perdagangan spot di Shanghai sudah hampir habis. Penawaran premium normal sudah di atas US$250 per ton.

Premium impor tembaga China mencapai US$107,50 per ton, tertinggi sejak Oktober 2015. Hal itu mengindikasikan permitaannya terus melonjak untuk komoditas logam dasar fisik. Sementara itu, premium harga seng bahkan mencapai titik tertingginya sebesar US$270 per ton.

Tag : komoditas tembaga
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top