Ekonomi Global Melambat, Harga Minyak Dunia Gamang  

Risiko ketidakjelasan pasokan dan krisis di pasar negara berkembang berpotensi menurunkan tingkat permintaan energi karena terhambat penguatan nilai tukar dolar AS sehingga membebani pergerakan harga minyak global.
Mutiara Nabila | 13 September 2018 21:21 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak - Reuters/Ernest Scheyder

Bisnis.com, JAKARTA — Risiko ketidakjelasan pasokan dan krisis di pasar negara berkembang berpotensi menurunkan tingkat permintaan energi karena terhambat penguatan nilai tukar dolar AS sehingga membebani pergerakan harga minyak global.

International Energy Agency melaporkan bahwa meski pada saat ini pasar minyak sedang mengetat dan permintaan diperkirakan naik mencapai 100 juta barel per hari. Namun, risiko ekonomi global terus membayangi selain gejolak mengenai pasokan.

Laporan IEA menyebutkan, pasar minyak dunia pada saat ini menghadapi pasar yang menahan belanja karena penguatan dolar AS. Meskipun demikian, menuju 2019, prediksi IEA lebih menyoroti kesehatan ekonomi negara berkembang. Pasalnya, pelemahan mata uang di emerging market  terhadap dolar AS membuat biaya impor energi naik.

Kepala Perdagangan Asia—Pasifik di perusahaan pialang Oanda di Singapura Stephen Innes mengatakan bahwa volume cadangan minyak di AS pada saat ini sudah melampaui ekspektasi dari sejumlah analis.

Menurut dia, produksi minyak AS mencatatkan penurunan sebanyak 100.000 barel per hari menjadi 10,9 juta barel per hari seiring dengan adanya hambatan pada kapasitas pipa penyalur minyak di sentra produksi.

“Selain soal pasokan, risiko pertumbuhan ekonomi karena kenaikan tensi perang dagang internasional juga memberatkan harga minyak,” katanya dikutip dari Bloomberg, Kamis (13/9).

Pada perdagangan Kamis (13/9), harga minyak Brent anjlok 0,65 poin atau 0,82% menjadi US$79,09 per barel dan naik 18,27% secara year-to-date (ytd). Adapun, harga minyak West Texas Intermediate tercatat turun 1,02 poin atau 1,45% menjadi US$69,35 per barel dan naik 14,78% sepanjang 2018 berjalan.

Sementara itu, Energy Information Administration merilis laporan mengenai cadangan minyak AS yang tercatat menyusut sebanyak 5,3 juta barel pada pekan lalu menjadi 396,2 juta barel. Penurunan itu merupakan posisi terendah sejak Februari 2015 di bawah rata-rata selama 5 tahun.

Harga minyak Brent sempat kembali menembus US$80 per barel pada perdagangan Rabu (12/9), capaian pertama kalinya sejak Mei lalu. Penguatan harga itu terdorong oleh ekspektasi mengenai sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran yang akan dimulai pada November dan berpotensi mengetatkan pasar minyak mentah global.

Adapun, harga minyak WTI terdorong ke US$70 per barel karena cadangan dan produksi minyak mentah AS yang anjlok. Laporan IEA menyebutkan bahwa pengetatan pasokan akan menambah dorongan pada harga.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan AS di China mulai dirugikan karena perang dagang antara Washington dan Beijing yang memicu pebisnis di Paman Sam untuk melobi Pemerintah AS agar kembali mempertimbangkan langkahnya dalam perang dagang.

Gedung Putih kemudian mengundang Pemerintah China untuk kembali mengadakan pembicaraan perdagangan. Hanya saja, langkah itu terjadi seiring dengan persiapan untuk meningkatkan tensi perdagangan dengan China dengan menambah tarif pada barang konsumsi senilai US$200 miliar. 

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top