Renegosiasi NAFTA Berlanjut, Indeks Dolar AS Melemah

Dolar Amerika Seriakt melemah pada perdagangan Rabu (12/9/2018) karena Kanada mengisyaratkan pihaknya siap untuk membuat konsesi ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan pembicaraan ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).
Aprianto Cahyo Nugroho | 12 September 2018 11:24 WIB
Karyawan memegang mata uang dolar AS di tempat penukaran valuta asing, Jakarta, Kamis (8/11/2017). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Rabu (12/9/2018) karena Kanada mengisyaratkan pihaknya siap untuk membuat konsesi ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan pembicaraan ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Di sisi lain, kecemasan terhadap ketegangan perdagangan antara AS – China masih terus membatasi pelemahan dolar lebih lanjut.

Dilansir Reuters, China meminta Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk menjatuhkan sanksi terhadap Amerika Serikat sebagai pembalasan atas ketidakpatuhan Washington terhadap putusan dalam sengketa atas bea dumping AS.

Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama di dunia pagi ini terpantau melemah 0,1% atau 0,093 poin ke level 95,156 pada pukul 10.34 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka melemah 0,14% atau 0,132 poin ke level 95,117, setelah pada perdagangan Selasa (11/9) berakhir menguat 0,1% atau 0,099 poin di posisi 95,249.

Dolar AS melemah setelah dua sumber dari Kanada mengatakan bahwa Ottawa siap menawarkan akses terbatas kepada Washington ke pasar susu Kanada sebagai konsesi dalam renegosiasi NAFTA.

Industri susu yang dilindungi Kanada adalah titik yang mencuat dalam pembicaraan NAFTA antara kedua negara. Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland kembali ke Washington pada Selasa untuk pembicaraan yang bertujuan menyelamatkan NAFTA menjelang tenggat waktu 1 Oktober.

Namun, pelemahan dolar dibatasi oleh kecemasan atas sengketa perdagangan antara China dan AS masih membuat investor khawatir, dengan indeks untuk mata uang negara emerging market mendekati level terendah dalam 16 bulan yang dicapai selama sesi perdagangan sebelumnya.

"Anda tidak dapat menyangkal bahwa emerging market telah jatuh dan membebani sentimen, dan itu mungkin telah mendorong banyak aliran dana ke AS dan dolar," kata Bart Wakabayashi, manajer cabang State Street Bank di Tokyo, seperti dikutip Reuters.

"Semua gejolak pasar yang muncul di atas semua ketidakpastian perdagangan ini telah benar-benar mendorong pelaku pasar menuju dolar dan yen hingga batas tertentu," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top