Tensi Perang Dagang Bawa Seluruh Logam Dasar Memerah

Tembaga Shanghai menyentuh level terendahnya lebih dari setahun dan mencatatkan penurunan selama lima hari berturut karena tensi perdagangan AS dan China yang terus berlanjut memberatkan harga logam dasar.
Mutiara Nabila | 05 September 2018 16:26 WIB
Tembaga - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Tembaga Shanghai menyentuh level terendahnya lebih dari setahun dan mencatatkan penurunan selama lima hari berturut karena tensi perdagangan AS dan China yang terus berlanjut memberatkan harga logam dasar.

Open interest pada tembaga shanghai, yang menjadi pengukut likuiditas pasar, menyentuh level tertinggi sejak 18 Juli lalu, karena sejumlah pialang berjangka menambahkan 3.047 lot ke posisi jangka pendeknya untuk kontrak Oktober. Posisi tersebut diperkirakan akan bertahan hingga Januari 2019.

Tak hanya tembaga Shanghai, seluruh harga logam dasar juga memerah.

“Sepertinya belum terlihat akan ada kenaikan dalam penjualan logam dasar, melihat penguatan dolar AS, tensi perang dagang, dan kekacauan dalam emerging market,” ujar Daniel Hynes, analis ANZ, dikutip dari Reuters, Rabu (5/9).

Pada perdagangan Rabu (5/9), harga tembaga di Shanghai Futures Exchange anjlok 660 poin atau 1,38% menjadi 47.320 yuan per ton. Secara year-to-date (ytd) tercatat turun 14,41%. Sebelumnya, harganya sempat menyentuh 47.040 yuan per ton, terendah sejak Juni 2017.

Selain itu, harga tembaga London Metal Exchange (LME) terctatat anjlok 152 poin atau 2,55% menjadi US$5.818 per ton dan turun 19,76% ytd. Dengan indeks dolar AS yang terus menguat, harga logam tersebut menjadi mahal bagi pengguna mata uang asing selain dolar AS.

Harga tembaga Comex juga tercatat turun tipis 0,50 poin atau 0,19% menjadi US$259,70 per pon dan turun 21,72%.

Logam dasar LME lainnya juga memerah dengan aluminium tercatat merosot 35 poin atau 1,67% menjadi US$2.062 per ton dan turun 9,08% selama 2018. Kemudian, harga seng tercatat turun 47,50 poin atau 1,93% menjadi US$2.415 per ton dan turun 27,22% ytd.

Selanjutnya, nikel tercatat turun 320 poin atau 2,50% menjadi US$12.470 per ton dan turun 2,27% ytd. Timah hitam tergelincir 43,50 poin atau 2,05% menjadi US$2.076,50 per ton dan turun 16,52% sepanjang 2018. Adapun, timah turun 15 poin atau 0,08% menjadi US$18.825 per ton dan turun 5,99% ytd.

Selain LME, logam dasar di bursa Shanghai juga serempak memerah dengan seng tercatat 465 poin atau 2,20% menjadi 20.685 yuan per ton dan turun 17,08% selama 2018 berjalan. Aluminium Shanghai turun 140 poin atau 0,95% menjadi 14.645 yuan per ton dan turun 2,80%.

Sementara itu, harga baja rebar Shanghai turut mencatatkan penurunan 31 poin atau 0,75% menjadi 4.077 yuan per ton. Namun, baja rebar menjadi satu-satunya komoditas logam dasar yang mencatatkan kenaikan secara ytd sebesar 13,17%.

Sejumlah perusahaan gudang logam menginginkan LME agar mengubah peraturan pengiriman logam dasar sehingga tidak perlu mengantre terlalu panjang dan lama dan dapat memacu pendapatan di tengan stok yang terus menipis.

Selain itu, sejumlah pasar saham di Asia juga mencatatkan penurunan karena dolar AS yang terus menguat. Sementara itu dolar AS sebagai safe-haven terus menguat mendekati titik tertinggi selama dua pekan karena kekhawatiran pasar internasional akan konflik yang menurunkan minat investor pada aset berisiko tinggi.

 

Tag : komoditas, logam
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top