Tertekan Penguatan Dolar AS, Rupiah Lanjutkan Pelemahan  

Rupiah kembali melemah ke level Rp14.478 per dolar Amerika Serikat. Penguatan beberapa hari lalu diprediksi akan berbalik arah.
Mutiara Nabila | 12 Agustus 2018 22:00 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terpantau di Bloomberg, Minggu (12/8/2018) kembali melemah ke level Rp14.478 per dolar Amerika Serikat. Penguatan beberapa hari lalu diprediksi akan berbalik arah.

Dengan keputusan pebuat kebijakan yang semakin dekat, pada Rabu (15/8) mendatang, Bank Indonesia (BI) kembali tertekan jika ingin kembali menaikkan suku bunganya meskipun telah menaikan hingga total 100 basis poin sejak pertengahan Mei lalu untuk menopang pelemahan rupiah.

Pembalikkan posisi rupiah saat ini semakin jelas dalam beberapa pekan terakhir, ditambah dengan defisit akun yang diprediksi akan semakin dalam, ketidakpastian politik sebelum Pemilihan Presiden tahun depan, kenaikan tensi perdagangan global, pelemahan mata uang emerging-markets yang bertitik berat pada Turki, dan reli dolar AS yang terdorong oleh nada hawkish dari Federal Reserve AS.

Mizuho Bank Ltd. dan Australia & New Zealand Banking Group Ltd. melaporkan bahwa pertahanan utama BI adalah dengan menaikkan suku bunga. 

"Kami memperkirakan BI kemungkinan akan berada dalam risiko pengetatan untuk kepentingan keuangan dan stabilitas pertukaran mata uang saat volatilitas dan capital outflows memberi tekanan bagi rupiah untuk bisa menguat," ujat Vishnu Varathan, Kepala Ekonom dan Strategi Mizuho Bank di Singapura, dikutip dari Bloomberg, Minggu (12/8/2018).

Vishnu menambahkan bahwa risiko tersebut kemungkinan akan bertahan hingga September — Oktober ketika AS dan China diprediksi akan kembali melakukan pembicaraan dan penarikan likuiditas global meningkat.

Para pembuat kebijakan kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga acuan 7-Days Repo Rate hingga 25 atau 50 basis poin untuk memberikan perlindungan bagi rupiah. 

BI juga telah memanfaatkan cadangan devisanya untuk menguatkan mata uang garuda yang terus bearish. Cadangannya menurun untuk bulan keenam pada Juli ke US$118,3 miliar dari US$132 miliar pada Januari.

Stabilitas rupiah belakangan ini menandakan bahwa kebijakan BI sukses. Rupiah hanya tergelincir tipis sejak merosot ke level terendahnya selama tiga tahun pada Juli. Investor luar negeri telah membukukan saham lokal senilai US$54 miliar pada bulan lalu setelah menggelontorkan total US$3,7 miliar pada lima bulan belakangan, dan membeli Rp9,1 triliun obligasi.

Khoon Goh, kepala riset Asia ANZ di Singapura, melihat rupiah bisa menguat hingga Rp14.000 per dolar AS pada akhir tahun. Untuk jangka pendek ada potensi penguatan hingga Rp14.400 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top