TOWR Kantongi Izin Buyback Saham 5%

Emiten infrastruktur telekomunikasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) mendapatkan izin melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 5% dari jumlah saham yang beredar.
Hafiyyan | 10 Agustus 2018 18:40 WIB
Pengunjung melintas di samping papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (27/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten infrastruktur telekomunikasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) mendapatkan izin melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 5% dari jumlah saham yang beredar.
 
Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Jumat (10/8/2018), Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Aming Santoso menyebutkan perseroan mendapatkan izin untuk melakukan buyback saham sebanyak 5% dari jumlah saham yang beredar. Persentase itu setara dengan 2,55 miliar lembar saham.
 
"Program buyback ini berlaku 18 bulan sejak mendapatkan persetujuan dari pemegang saham," tuturnya setelah RUPSLB.
 
Aksi korporasi ini dilakukan karena harga saham perseroan belum menggambarkan nilai secara fundamental. Padahal, kinerja TOWR diklaim terus bertumbuh seiring dengan peningkatan kebutuhan telekomunikasi.
 
Dalam tiga tahun terakhir, pendapatan TOWR berhasil meningkat 30%. Namun, dalam periode tersebut harga saham perseroan cenderung stagnan. 
 
Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, saham TOWR turun 15 poin atau 2,7% menjadi Rp540. Price to Earning Ratio (PER) sebesar 12,86 kali dengan kapitalisasi pasar Rp27,55 triliun.
 
Sepanjang tahun berjalan, harga saham TOWR melesu 32,5%. Tak jauh berbeda, dalam tiga tahun terakhir harga sahamnya meluncur turun 31,9%.
 
Sebelumnya, entitas Grup Djarum ini menyelesaikan pemecahan nilai saham atau stocksplit dengan rasio 1:5 pada 27 Juni 2018. Pada hari perdagangan terakhir sebelum stocksplit, harga sahamnya berada level Rp3.040.
 
Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Gifari menyampaikan manajemen berencana menyimpan saham hasil buyback sebagai saham treasury. Saham treasury tersebut dapat menjadi salah satu opsi metode pembayaran transaksi apabila perusahaan melakukan akuisisi.
 
"Kami melihat beberapa pihak tertarik dengan adanya komponen saham sebagai salah satu pembayaran atas proses transaksi akuisisi," paparnya.
 
Sarana Menara, melalui anak usahanya PT Protelindo, mengakuisisi 100% saham PT Komet Infra Nusantara (KIN). Sebelumnya KIN merupakan anak usaha PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META).
 
Perusahaan baru menngonsolidasikan pendapatan dari KIN selama satu bulan per semester I/2018. Setiap tahunnya, KIN membukukan rata-rata pendapatan sebesar Rp325 miliar.
 
Dari sisi operasional, sambung Adam, perseroan memiliki 1.100 order sewa menara dan 2.000 kilometer (km) kabel fiber optik. Kedua proyek ini diharapkan dapat rampung pada semester II/2018.

Tag : buyback, sarana menara nusantara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top