IHSG Berbalik Melemah 0,21%, 161 Saham Tertekan di Sesi I

IHSG melemah 0,21% atau 12,88 poin ke level 5.998,84 pada akhir sesi I, setelah dibuka dengan penguatan sebesar 0,05% atau 3,07 poin di level 6.014,80.
Aprianto Cahyo Nugroho | 03 Agustus 2018 12:36 WIB
Pengunjung melintas di samping papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (27/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (3/8/2018).

IHSG melemah 0,21% atau 12,88 poin ke level 5.998,84 pada akhir sesi I, setelah dibuka dengan penguatan sebesar 0,05% atau 3,07 poin di level 6.014,80.

Adapun pada akhir perdagangan kemarin, Kamis (2/8), IHSG ditutup dengan pelemahan 0,36% atau 21,70 poin ke level 6.011,72.

Sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG bergerak pada level 5.997,27 – 6.023,47.

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 162 saham menguat, 161 saham melemah, dan 274 saham stagnan dari 597 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Astra International Tbk (ASII) menjadi penekan utama IHSG setelah melemah 3,08%, disusul saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang melemah 1,71% di akhir sesi I.

Lima dari sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona merah dengan tekanan terbesar datang dari sektor aneka industri yang melemah 2,34%, disusul sektor infrastruktur yang turun 0,63%.

Di sisi lain, empat sektor lainnya menguat dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut, dipimpin sektor pertanian yang menguat 2,32%.

Indeks saham lain di kawasan Asia Tenggara terpantau bergerak mayoritas menguat siang ini, dengan indeks FTSE Malay KLCI naik 0,02%, indeks FTSE Straits Time melemah 0,2%, indeks SE Thailand menguat 0,37%, dan indeks PSEi Filipina naik 0,25%.

Tim riset Samuel Sekuritas Indonesia sebelumnya memperkirakan IHSG masih akan tertekan pada perdagangan hari ini seiring ancaman perang dagang yang kembali menyeruak, setelah Trump mempertimbangkan mengenakan tarif pajak impor yang lebih tinggi untuk barang dagang China.

Selain itu, lemahnya kinerja dan prospek emiten big caps, menjadi katalis negative bursa. Nilai tukar rupiah tercatat melemah, sedangkan pasar EIDO melemah.

Sebelumnya, Presiden Trump tengah berdiskusi dengan US Trade Representative, Robert Lightizer untuk menaikkan tarif pajak impor untuk barang impor dari China senilai US$ 200 miliar, dari sebesar 10% menjadi 25%. Kementerian Perdagangan China merespon akan melakukan tindakan yang dirasa perlu untuk menjaga kepentingan global. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top