Sektor Tambang Sukses Antar IHSG Kembali Tembus Level 6.000

Sektor tambang sukses mengantarkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak reli pada akhir perdagangan hari ketujuh berturut-turut, Senin (30/7/2018), sekaligus kembali menjebol level psikologis 6.000
Renat Sofie Andriani | 30 Juli 2018 17:31 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— Sektor tambang sukses mengantarkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak reli pada akhir perdagangan hari ketujuh berturut-turut, Senin (30/7/2018), sekaligus kembali menjebol level psikologis 6.000

IHSG ditutup menguat 0,65% atau 38,80 poin di level 6.027,94, level penutupan tertinggi dalam sekitar tujuh pekan terakhir.

Indeks mulai melanjutkan relinya saat dibuka naik 0,15% atau 8,96 poin di level 5.998,10, setelah berakhir menguat 0,72% atau 43 poin di level 5.989,14 pada perdagangan Jumat (27/7).

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran level 5.994,08 – 6.027,94. Dari 597 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 217 saham menguat, 172 saham melemah, dan 208 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona hijau dengan sektor tambang yang naik 2,72% sebagai kontributor terbesar atas penguatan IHSG. Adapun sektor infrastruktur dan perdagangan berakhir di zona merah, masing-masing terkoreksi 0,20% dan 0,10%.

Kinerja perusahaan tambang batu bara di Indonesia menguat setelah pemerintah dikabarkan berencana menghapus kebijakan domestic market obligation (DMO) demi mengerek kinerja ekspor Indonesia.

Rencana tersebut dikemukakan oleh Menteri Koordinator Maritim Luhut Binsar Panjaitan seusai menghadiri rapat internal dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar di Istana Negara pada Jumat (27/7).

Menurut Luhut, penghapusan DMO tersebut merupakan upaya pemerintah untuk memaksimalkan ekspor batu bara agar dapat berdampak positif terhadap current account defisit [CAD) Indonesia.

Pembahasan detail terkait rencana penghapusan DMO disebutnya akan dilakukan pada rapat terbatas pada Selasa (31/7) di Istana Negara.

Indeks sektoral pertambangan pun melonjak sekaligus mencatatkan kenaikan terbesar di antara sembilan kelompok industri pada IHSG. Saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) hari ini ditutup menguat 6,36% dan 4,97% masing-masing.

“Semua penambang batu bara akan mendapat manfaat dari pencabutan DMO dan mandatory pricing untuk batu bara, karena akan meningkatkan harga jual rata-ratanya,” jelas Prasetya Gunadi dan Aditya Eka Prakasa, analis BCA Sekuritas, dikutip Bloomberg.

Analis Sinarmas Sekuritas, Richard Suherman, berpendapat bahwa dampak keseluruhan rencana tersebut terhadap industri pertambangan batu bara akan positif.

“Para penambang dapat menjual batu bara mereka di pasar domestik dengan harga lebih tinggi atau dapat mengekspor sebagian besar produksi mereka ke luar negeri,” ujar Richard.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 mampu memperpanjang penguatannya dengan berakhir menguat 0,59% atau 3,06 poin di level 524,63, setelah dibuka naik 0,19% di posisi 522,56. Saham ADRO turut menjadi pendorong utama penguatannya hari ini.

Indeks saham lainnya di Asia terpantau bergerak variatif sore ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,51%), indeks PSEi Filipina (+0,93%), dan indeks FTSE Malay KLCI (+0,06%).

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing turun 0,43% dan 0,74%. Indeks Kospi Korea Selatan turun tipis 0,06%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing turun 0,16% dan 0,17%.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BMRI

+2,28

ASII

+1,79

ADRO

+6,36

GGRM

+2,55

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

TLKM

-0,76

PTBA

-5,22

UNVR

-0,51

TRIO

-7,30

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top