Ini Alasan Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap Underperform

Kinerja reksa dana pendapatan tetap sepanjang tahun berjalan 2018 underperform dari kinerja indeks acuannya seiring dengan tertekannya pasar surat utang negara.
Tegar Arief | 25 Juli 2018 07:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Kinerja reksa dana pendapatan tetap sepanjang tahun berjalan 2018 underperform dari kinerja indeks acuannya seiring dengan tertekannya pasar surat utang negara.

Berdasarkan data Infovesta Utama, indeks reksa dana pendapatan tetap merupakan satu-satunya yang mencatatkan kinerja underperform dibandingkan dengan kinerja indeks reksa saham dan reksa dana campuran.

Kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin melalui Infovesta Fixed Income Fund Index per 20 Juli 2018 tercatat -3,52% secara year-to-date. Sementara itu, indeks acuannya (corporate bond index+goverment bond index) mencatatkan kinerja 0,25%.

Adapun, kinerja indeks reksa dana saham tercatat -5,07% atau masih di atas kinerja indeks acuannya, yakni indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tercatat -7,60%. Begitu juga indeks reksa dana campuran yang tercatat -3,35%, sedangkan indeks acuannya (IHSG+government bond index) tercatat -5,10%.

Di sisi lain, indeks reksa dana pasar uang tercatat 2,17%, sedangkan indeks acuannya (Lembaga Penjaminan Simpanan) tercatat 2,60%. Meski memiliki kinerja di bawah indeks acuannya, spread antara kinerja indeks dengan indeks acuannya tidak terlalu besar.

Head of Investment Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, kinerja reksa dana pendapatan tetap yang underperform disebabkan oleh turunnya kinerja surat utang negara (SUN) yang tercermin melalui Infovesta Government Bond Index (IGBI).

"Turunnya SUN ini karena terdampak kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Kemudian beberapa waktu lalu asing banyak keluar dari obligasi negara juga," jelasnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (24/7).

Dia menjelaskan, obligasi korporasi yang tercermin melalui Infovesta Corporate Bond Index (ICBI) tidak terlalu mempengaruhi kinerja reksa dana pendapatan tetap. Pasalnya, mayoroitas manajer investasi (MI) banyak yang menjadikan SUN sebagai underlying asset.

Selain itu, kinerja ICBI juga berhasil menjaga stabilitas sehingga tidak negatif. "Reksa dana sekarang banyak yang masuk ke SUN, terutama industri asuransi. Nah, mereka masuk lewat reksa dana," imbuhnya.

Wawan memprediksi, pada kuartal III/2018, reksa dana yang menggunakan underlying asset obligasi ini masih akan tertekan, sejalan dengan rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan. Langkah itu, katanya, akan diikuti oleh Bank Indonesia (BI)

Direktur Avrist Asset Management Hanif Mantiq menambahkan, sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan industri asuransi untuk masuk ke pasar SUN, banyak MI melakukan perubahan strategi bisnis.

Dalam 2 tahun terakhir, obligasi negara dijadikan underlying asset untuk reksa dana pendapatan tetap. Adapun, obligasi swasta dijadikan aset dasar untuk produk reksa dana terproteksi.

"Inilah yang menyebabkan kinerja reksa dana pendapatan tetap underperform terhadap acuannya," kata dia.

Menurutnya, strategi yang jitu untuk diterapkan saat ini adalah masuk ke obligasi dengan tenor pendek. Tujuannya adalah untuk meminimalisasi kerugian mengingat masih besarnya potensi tekanan terhadap pasar obligasi hingga akhir tahun.

Potensi tekanan itu muncul karena sentimen kenaikan suku bunga, baik di dalam negeri maupun di AS. Sebab, volatilitas obligasi dengan tenor pendek lebih rendah dibandingkan dengan obligasi dengan tenor 10 tahun.

"Masuk ke obligasi pendek dengan tujuan untuk mengurangi durasi. Kalau semua aset rugi kita ambil yang ruginya terkecil. Tekanan obligasi ini sepertinya jangka panjang," ujarnya.

Tag : reksa dana
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top