BALI dan SUPR Perluas Bisnis Serat Optik

Dua emiten infrastruktur telekomunikasi domestik, PT Solusi Tunas Pratama Tbk. dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk. kian memperluas bisnis serat optik yang diharapkan dapat mendukung pendapatan bisnis utama perseroan.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 16 Juli 2018  |  18:04 WIB
BALI dan SUPR Perluas Bisnis Serat Optik
Ilustrasi kabel serat optik - Reuters/Alessandro Bianchi

Bisnis.com, JAKARTA – Dua emiten infrastruktur telekomunikasi domestik, PT Solusi Tunas Pratama Tbk. dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk. kian memperluas bisnis serat optik yang diharapkan dapat mendukung pendapatan bisnis utama perseroan.

Keduanya memiliki bisnis utama sebagai penyedia menara telekomunikasi. Kendati demikian, pertumbuhan industri telekomunikasi nasional dan penetrasi yang masih rendah mendorong perseroan untuk terus memperluas jaringan serat optik.

Direktur Utama solusi Tunas Pratama, Nobel Tanihaha mengungkapkan keputusan perusahaan untuk masuk ke bisnis serat optik merupakan strategi untuk membuat perusahaan lebih kompetitif dibandingkan emiten sejenis.

“Dulunya kami hanya menyediakan menara, namun sudah lima tahun terakhir masuk ke bisnis serat optik karena produk ini sangat penting. Ke depan, pembangunan infrastruktur akan menyesuaikan dengan yang diperlukan pasar,” ungkap Nobel pada Bisnis belum lama ini.

Pada tahun ini, Nobel menyampaikan perusahaan akan memaksimalkan monetisasi dari infrastruktur serat optik perseroan yang telah ada. Seperti bisnis menara, perseroan membidik sejumlah klien untuk menggunakan serat optik perseroan.

Nobel menyampaikan perseroan akan menggiatkan penawaran pada klien-klien potensial seperti operator telekomunikasi, perusahaan penyedia layanan wholesale broadband, dan perusahaan penyedia layanan TV kabel.

Berdasarkan dokumen resmi yang dipublikasikan perseroan, emiten dengan kode saham SUPR tersebut telah memiliki 2.874 kilometer jaringan serat optik. Segmen bisnis tersebut berkontribusi kecil pada perseroan, di mana 89% pendapatan masih disumbangkan oleh bisnis menara telekomunikasi.

Solusi Tunas Pratama membukukan pendapatan sebesar Rp1,91 triliun selama 2017 atau meningkat 4,6% dbandingkan tahun sebelumnya. Adapun, Ebitda perseroan pada tahun lalu mencapai Rp1,65 triliun, naik 5,9% dibandingkan 2016.

Kendati mayoritas pendapatan perseroan disumbangkan bisnis menara, sumber pendapatan SUPR dari bisnis serat optik dan microcell poles tumbuh 10,2% dalam dua tahun terakhir.

“Tahun ini kami perluas pertubuhan bisnis fiber melalui fiberisasi perumahan. Kami telah mengantongi kontrak dengan XL Axiata, First Media, dan My Republic,” jelas Nobel. Pada 2017, perseroan menyelesaikan pilot project untuk fiberisasi 3.000 rumah.

Sementara itu, Bali Towerindo Sentra mencicipi bisnis serat optik melalui FTTx, yaitu medium pengiriman serat optik hingga ke titik pengguna akhir.

Direktur Bali Towerindo Sentra Robby Hermanto mengungkapkan pada tahun ini perseroan akan meganggarkan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp550 miliar khusus untuk perluasan jaringan FTTx.

Capex tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan yang digelontorkan emiten dengan kode saham BALI tersebut untuk bisnisnya yang lain yaitu segmen menara sebesar Rp250 miliar, sedangkan capex ddata center sebesar Rp60 miliar.

“Perseroan akan menjadi penyedia akses jaringan FTTx di mana kami memiliki pasar dari penyedia layanan internet dan TV berbayar. Tahun ini, perseroan membidik pembangunan FTTx untuk 85.000—100.000 homepassed,” ungkap Robby.

Menurutnya, saat ini 40.000 FTTx sedag dalam tahap produksi. Adapun, per akhir 2017, perseroan telah memiliki 14.619 homepassed FTTx.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top