ABM Investama (ABMM) Genjot Produksi Batu Bara di Aceh

PT ABM Investama Tbk. (ABMM) menargetkan produksi batu bara di tambang Aceh meningkat menjadi 10 juta ton pada 2019 dari estimasi 5 juta ton pada tahun ini.
Hafiyyan | 12 Juli 2018 22:22 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - PT ABM Investama Tbk. (ABMM) menargetkan produksi batu bara di tambang Aceh meningkat menjadi 10 juta ton pada 2019 dari estimasi 5 juta ton pada tahun ini.

Direktur Utama ABM Investama Andi Djajanegara menyamapaikan, perusahaan mengoperasikan dua tambang batu bara di Aceh dan Kalimantan Selatan. Masing-masing tambang memiliki spesidikai produk 3.400 Kcal/kg dan 4.200 Kcal/kg.

Total cadangan batu bara di Aceh sejumlah 250 juta ton. Adapun, di Kalimantan Selatan, ABMM memiliki cadangan batu hitam sekitar 20 juta ton.

"Pada 2018, total produksi ditargetkan naik menjadi 9,5 juta ton. Aceh berkontribusi 5 juta ton, sedangkan Kalsel 4 juta--4,5 juta ton," ujarnya, Kamis (12/7/2018).

Tahun lalu, perseroan merealisasikan produksi batu bara sebesar 7,94 juta ton dari kedua tambang. Kontribusi masing-masing tambang cenderung serupa.

Seluruh produk batu bara di Aceh dilepas ke pasar ekspor seperti China, India, dan Thailand. Dari sisi geografis, lokasi tambang itu diuntungkan karena dekat dengan negara-negara tersebut.

Karena permintaan ekspor terus bertumbuh, perusahaan berupaya memacu produksi tambang Aceh menjadi 8 juta-10 juta ton 2019. Selain pasar eksis, ABMM juga membuka market baru seperti Vietnam. Adapun, di Kalsel jumlah produksi pada 2019 diperkirakan sama seperti tahun ini.

Direktur dan CFO ABM Investama Adrian Sjamsul mengungkapkan, rencana peningkatan produksi disesuaikan dengan permintaan pasar. Konsumen batu bara perseroan merupakan pelanggan dengan kontrak pembelian jangka panjang, sehingga memudahkan rencana operasional penambangan.

"Kami sudah mengantongi komitmen pembelian produk batu bara ABM sampai 2019. Jadi produksi disesuaikan," tuturnya.

Per Maret 2018, perusahaan baru merealisasikan produksi batu bara sejumlah 2,1 juta ton. Namun, diperkirakan kinerja operasional masih sejalan dengan rencana, sehingga dapat mencapai target setahun penuh sejumlah 9,5 juta ton.

Menurutnya, peningkatan produksi batu bara tidak mudah, karena membutuhkan dana, alat, waktu, dan SDM yang mumpuni. Oleh karena itu, kinerja kuartal I/2018 belum menggambarkan performa 2018 secara keseluruhan.

"Kalau ingin naik 5% persiapan tentu lebih mudah. Tapi kami kan ingin menaikan sampai 50% pada tahun depan, jadi perlu persiapan yang ekstra," paparnya.

ABMM juga memiliki 7 entitas anak di bidang kontraktor tambang, pertambangan dan perdagangan, kelistrikan, logistik, jasa rekayasa dan pabrikasi, serta perdagangan BBM. Dengan integrasi anak usaha, perseroan menjadi emiten energi terintegrasi.

Dalam sisi operasional, ABMM juga dapat melakukan efisiensi, sekaligus keuntungan bagi anak-anak usaha yang terlibat. Dengan produksi batu bara di Kalsel sebesar 5 juta ton per tahun, perusahaan berpotensi mendapatkan EBITDA US$108 juta.

Pada 2018, perseroan menargetkan pendapatan US$800 juta. Tahun lalu, perusahaan membukukan pendapatan senilai US$690,73 juta, meningkat 16,93% year-on-year (yoy). Bisnis tambang batu bara berkontribusi 70% terhadap total pendapatan.

Tag : kinerja emiten, abmm
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top