Perang Dagang, Bahan Pangan Jadi Target Tarif Trump Selanjutnya

Kedelai dan sorgum China yang terkena tarif impor pada bulan lalu, dibalas oleh Amerika Serikat yang menargetkan sektor pertanian dan hortikulturanya dengan memasukkannya dalam daftar barang China yang akan terkena tarif terbaru senilai US$200 miliar dari AS.
Mutiara Nabila | 11 Juli 2018 17:11 WIB
Buah impor. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kedelai dan sorgum China yang terkena tarif impor pada bulan lalu, dibalas oleh Amerika Serikat yang menargetkan sektor pertanian dan hortikulturanya dengan memasukkannya dalam daftar barang China yang akan terkena tarif terbaru senilai US$200 miliar dari AS.

Produk yang paling signifikan dikonsumsi oleh AS ada pada sektor jus buah-buahan dan makanan laut.

Dilansir dari data bea cukai AS, China mengekspor produk tani senilai US$7,7 miliar ke AS pada 2017. AS merupakan pembeli jus apel terbesar ke China hingga senilai US$277 juta. Adapun, data Kementerian Perdagangan China menunjukkan bahwa AS juga melakukan pembelian produk udang senilai US$469 juta ke China pada 2016.

China yang merupakan pengimpor produk pertanian AS terbesar di dunia, dikenakan tarif pada 6 Juli lalu senilai US$34 miliar untuk produk pertanian dan kendaraan AS. Produk utama yang dikenakan tarif meliputi kedelai, daging, dan makanan laut.

Selanjutnya, AS memunculkan rencana untuk kembali menambahkan tarif baru senilai US$200 miliar pada impor China, yang bisa mulai berlaku pada 30 Agustus mendatang. Kemunculan rencana tersebut membuat harga produk dari seluruh sektor komoditas luruh.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim menuturkan bahwa pelemahan seluruh harga tersebut karena dolar AS menguat. Ibrahim memproyeksikan indeks dolar AS bisa naik hingga menyentuh 94,51 dan akan kembali turun jika diproyeksikan selama sepekan kedepan kembali ke 93.

Indeks dolar AS pada Rabu (11/7) tercatat naik 0,07% dan berada pada posisi 94,23 setelah AS menelurkan rencana tambahan tarif ke China.

“Sebetulnya tambahan tarif itu masih belum pasti, karena masih menunggu terlaksana kemungkinan akhir Agustus, sehingga rumor yang masih begitu jauh itu mengakibatkan dolar AS mengalami penguatan,” ujar Ibrahim saat dihubungi Bisnis, Rabu (11/7/2018).

Ibrahim menuturkan bahwa secara keseluruhan fundamental harga komoditas hingga mata uang masih bagus. Agar dolar AS melemah dan membawa penguatan, maka harus ada perlawanan dari lawan dagang AS layaknya akhir pekan lalu saat China melakukan perlawanan dengan menerapkan tarif yang serupa dengan AS.

Tag : komoditas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top