Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDR Naikkan Kapasitas Produksi 20%

Emiten produsen polyster dan tekstil PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR) menaikkan kapasitas produksi sebesar 20% atau 55.000 ton per tahun sampai 2020.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 01 Juli 2018  |  13:40 WIB


Bisnis.com, JAKARTA--Emiten produsen polyster dan tekstil PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR) menaikkan kapasitas produksi sebesar 20% atau 55.000 ton per tahun sampai 2020.

Direktur Utama Indo-Rama Synthetics Visnu Swaroop Baldwa menyampaikan, utilisasi pabrik perusahaan mencapai 100%, sehingga perlu menambah kapasitas produksi polyster. Pada 2020, diharapkan kapasitas produksi meningkat sekitar 20% atau 55.000 ton menuju 275.000 ton per tahun.

"Pengembangannya ada dua fase. Fase pertama diperkirakan selesai akhir tahun ini dengan penambahan kapasitas sekitar 15% dari 55.000 ton [8.250 ton]. Seluruhnya selesai 2020," ujarnya, Jumat (29/6/2018).

Menurut Baldwa, penambahan kapasitas produksi polyster sebesar 55.000 ton selama dua tahun membutuhkan biaya US$60 juta. Sumber pendanaan berasal dari kas internal.

Per Maret 2018, ekuitas perseroan mencapai US$297,87 juta, naik dari akhir 2017 senilai US$284,30 juta. Adapun, liabilitas sejumlah US$547,46 juta, meningkat dari sebelumnya US$515,80 juta.

Penjualan bersih pada kuartal I/2018 tumbuh 11,49% year on year (yoy) menjadi US$220,08 juta. Pasar ekspor berkontribusi US$143,22 juta, sedangkan pasar lokal menyumbang US$77,21 juta.

Sementara itu, laba bersih melonjak 403,15% yoy menjadi US$13,24 juta dari sebelumnya US$2,63 juta. Menurut Baldwa, nilai itu mendekati target setahun penuh 2018 sebesar US$15 juta.

"Kami sangat yakin laba bersih 2018 melampaui target kami US$15 juta. Tapi kami belum mencanangkan target [laba bersih] baru," tuturnya.

Peningkatan laba bersih didukung oleh kenaikan harga minyak mentah global sebagai bahan baku Mono Etilena Glycol (MEG) dan Purified Terephthalic Acid (PTA). MEG dan PTA nantinya diolah menjadi benang polyster, serat polyster, dan resin polymer.

Benang dan serat polyster merupakan bahan baku kain untuk baju, jok mobil, kasur, dsb. Adapun, resin adalah pembentuk barang-barang plastik, seperti botol minum, kemasan, dan alat elektronik.

Baldwa menyampaikan, memanasnya harga minyak global membuat harga produk dan margin INDR kepada konsumen meningkat. Kenaikan harga produk perusahaan berkisar 5%--11% per Maret 2018, dibandingkan rerata harga pada setahun penuh 2017.

Selain itu, Indorama terus berupaya memacu produksi eksklusif. Artinya, konsumen mendapatkan polyster dan benang yang sesuai spesifikasi permintaannya.

"Kami mengejar niche market. Jadi setiap konsumen mendapatkan produk yang ada satu-satunya di dunia, sesuai spesifikasi kebutuhan mereka," imbuhnya.

Untuk perusahaan tekstil Coats di Britania Raya misalnya, Indorama menyediakan satu pabrik khusus. Pada 2017, ekspor perusahaan sudah mencapai 80 negara, dengan kontribusi terbesar dari benua Eropa sekitar 35% dan Asia 27%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indorama
Editor : Riendy Astria
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top