Gelar Tiga Aksi Korporasi, Ini Proyeksi Keuangan Bukit Uluwatu (BUVA)

Emiten perhotelan dan restoran PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. memperkirakan pendapatan tahunan perseroan akan menembus Rp1,5 triliun mulai 2019 mendatang setelah dua aksi korporasi penting perseroan, yakni private placement dan rights issue sukses terlaksana.
Emanuel B. Caesario | 28 Juni 2018 19:12 WIB
Logo Bukit Uluwatu Villa - buvagroup.com

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perhotelan dan restoran PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. memperkirakan pendapatan tahunan perseroan akan menembus Rp1,5 triliun mulai 2019 mendatang setelah dua aksi korporasi penting perseroan, yakni private placement dan rights issue sukses terlaksana.

Pada 2017 lalu, total pendapatan emiten dengan kode saham BUVA ini hanya senilai Rp252 miliar atau hanya 8% dari total aset perseron yang sebesar Rp3,3 triliun. Pendapatan ini meningkat 6,3% dibandingkan pendapatan 2016 senilai Rp237 miliar, tetapi perseroan membukukan rugi bersih Rp39 miliar, berbalik dibandingkan 2016 yang tercatat laba Rp13 miliar.

Hendry Utomo, Direktur Keuangan Bukit Uluwatu Villa, mengatakan bahwa perseroan membutuhkan strategi baru untuk mengakselerasikan tingkat pertumbuhan pendapatan perseroan. Bila hanya mengandalkan modal yang ada dan model bisnis yang biasa, perseroan akan sulit untuk berkembang.

Untuk itu, perseroan memutuskan untuk melakukan penambahan modal untuk akuisisi sejumlah aset menarik dan mempercepat penyelesaian proyek-proyek perseroan. Meski enggan mengungkapkan aset-aset strategis yang dimaksud, dirinya memastikan perseroan hanya akan mengincar aset-aset terbaik.

Emiten dengan kode saham BUVA ini sudah mengantongi restu pemegang saham untuk menggelar aksi penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement, dan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.

Restu dikantongi dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar Kamis (28/6/2018). Bersamaan dengan itu, perseroan juga mengantongi restu stock split 1:2, artinya 1 saham perseroan dengan nominal Rp100 akan dipecah menjadi 2 saham dengan nominal Rp50.

Perseroan menargetkan dana Rp160 miliar dari aksi private placement sebanyak 9% dari total modal ditempatkan dan disetor setelah aksi tersebut, dan sebesar Rp600 miliar hingga Rp800 miliar dari rights issue sebanyak 33% dari total modal ditempatkan dan disetor setelah rights issue.

Dana dari dua aksi korporasi tersebut akan digunakan perseroan untuk mengakuisisi sejumlah proyek yang sudah beroperasi dalam bisnis leisure dan life style. Selain itu, dana tersebut juga untuk melunasi utang sekitar Rp250 miliar dan belanja modal untuk menyelesaikan sejumlah proyek perseroan senilai Rp250 miliar hingga Rp300 miliar.

“Tujuan kami dengan corporate action ini memang supaya bisa tingkatkan kinerja perusahaan lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. Selama ini kami konsentrasi untuk pembangunan, tetapi itu akan makan waktu lebih lama dibandingkan kalau kami tinggal identifikasi kandidat yang baik untuk target akuisisi,” katanya, Kamis (28/6/2018).

Private placement akan digelar pada Agustus tahun ini setelah perseroan terlebih dahulu melakukan stock split pada Juli mendatang. Sementara itu, rights issue akan menunggu momentum yang tepat dalam 12 bulan ke depan.

Bila kedua aksi korporasi ini selesai, perseroan akan mengantongi tambahan proyek baru yang cukup banyak. Jumlah kamar hotel perseroan akan meningkat dari 132.885 pada 2018 menjadi 309.885 kamar pada 2023.

Perseroan memproyeksikan tingkat okupansi akan tubuh dari sekitar 62,9% pada 2018 menjadi 72,2% pada 2023.

Selain pada hotel, perseroan juga akan menambah aset baru pada lini bisnis food & beverage (F&B), spa, minor operating department, real estate, restaurant & club, serta life style & leisure.

Perseoran memproyeksikan pendapatan operasional bersih pada 2018 ini sudah akan mencapai Rp758 miliar, meningkat 200% dibandingkan capaian 2017 lalu Rp252 miliar. Meski begitu, perseroan memproyeksikan masih akan membukukan rugi bersih Rp24,2 miliar tahun ini.

Pada 2019, nilai pendapatan diproyeksikan akan meningkat menjadi Rp1,58 triliun dan perseroan sudah dapat membukukan laba dengan nilai Rp128 miliar, atau dengan margin 8,09%. Nilai ini secara bertahap akan terus meningkat hingga pada 2023 menjadi masing-masing pendapatan Rp2,52 triliun dan laba bersih Rp448 miliar. Margin laba bersih menjadi 17,75%.

Total aset perseroan pada akhir tahun ini diproyeksikan mencapai Rp6,35 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan aset 2017 senilai Rp3,3 triliun. Aset senilai Rp6,35 triliun ini terdiri atas ekuitas senilai Rp2,93 triliun dan liabilitas Rp3,42 triliun.

Pada 2023, total aset perseroan diestimasikan mencapai Rp6,95 triliun, terdiri atas ekuitas Rp4,4 triliun dan liabilitas Rp2,54 triliun.

Tag : bukit uluwatu
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top