Ini Alasan Lippo Kembali Batalkan Penerbitan DIRE

Instrumen investasi dana investasi real estate atau real estate investment trusts (DIRE/REITs) di Indonesia masih akan mengalami tantangan untuk dapat berkembang di Indonesia, apalagi setelah era suku bunga rendah berakhir.
Emanuel B. Caesario | 26 Juni 2018 07:09 WIB
Chief Executive Officer Lippo Group James T. Riady (kiri) berbincang dengan Ketua DPR Bambang Soesatyo di sela-sela penandatanganan naskah kerja sama investasi proyek Meikarta, di Jakarta, Rabu (21/3/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Instrumen investasi dana investasi real estate atau real estate investment trusts (DIRE/REITs) di Indonesia masih akan mengalami tantangan untuk dapat berkembang di Indonesia, apalagi setelah era suku bunga rendah berakhir.

Ketut Budi Wijaya, Direktur Utama Lippo Karawaci, mengatakan bahwa perseroan telah memutuskan untuk membatalkan penerbitan DIRE Bowsprit Commercial and Infrastructure yang seharusnya sudah terbit pada awal Mei lalu.

Ini merupakan percobaan kedua penerbitan instrumen ini oleh Lippo di Indonesia dan kembali gagal. Padahal, emiten dengan kode saham LPKR tersebut telah menurunkan target penerbitan unit dari Rp2,45 triliun pada 2017 lalu menjadi Rp1,19 triliun.

Jumlah aset yang hendak diakuisisi dari dana hasil penerbitan DIRE tersebut juga diturunkan dari semula 5 aset properti investasi menjadi 3 aset. Indikasi tingkat dividen yieldnya mencapai 8,93% per tahun dan bebas pajak.

Lippo berupaya memanfaatkan momentum penghapusan pajak berganda DIRE sejak 2015 untuk mempopulerkan instrumen ini di Indonesia. Sejak 2012 hanya ada satu DIRE yang bereda, yakni DIRE Ciptadana senilai Rp565,97 miliar, sedangkan Lippo lebih banyak menerbitkan DIRE di Singapura.

Ketut mengatakan, meskipun tingkat yield yang ditawarkan sangat tinggi, tetapi naiknya suku bunga Bank Indonesia serta yield obligasi saat ini menyebabkan instrumen yang kurang popular seperti DIRE menjadi tersingkir.

Selain itu, investor asing juga akhir-akhir ini cukup genjar meninggalkan pasar modal Indonesia. Padahal, instrumen DIRE ini turut mengandalkan investor asing yang lebih akrab dengan instrumen ini di luar negeri.

“Kami sudah mau terbitkan, tetapi tiba-tiba situasinya bukannya membaik malah memburuk. Investor yang tadinya sudah oke akhirnya tarik diri. Kalau soal aset, setiap saat bisa kami siapkan, tetapi investor dan situasinya yang belum kondusif,” katanya pekan lalu.

Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan Intiland Development, mengatakan bahwa pasar DIRE di dalam negeri masih belum matang sehingga kalangan pengembang memutuskan untuk menunda emisi DIRE.

Dirinya mencontohkan lembaga dana pensiun yang seharusnya bisa diandalkan sebagai investor jangka panjang DIRE. Namun, sayangnya horizon investasi kebanyak dapen justru jangka pendek menyesuaikan dengan periode pergantian direksinya.

“Kalau dari pengembang, semua sudah ready, apalagi yang punya proyek recurring income yang banyak. Namun, investor dalam negeri kita yang belum mature sehingga banyak pengembang yang terbitkan di luar negeri,” katanya.

Tulus Santoso, Direktur Ciputra Development, mengatakan bahwa kendala penerbitan DIRE masih berkutat pada isu imbal hasil. Investor cenderung meminta imbal hasil yang sangat tinggi sebagai pengimbang atas resiko likuiditasnya, padahal kondisi bisnis properti investasi saat ini belum terlalu baik.

“Kalau aturannya saya kira sudah bagus, tinggal dilaksanakan. Hanya kondisi market yang membatasi. Mungkin kita harus tunggu sampai bunga turun lagi, tetapi celakanya saat ini malah naik,” katanya.

Tag : dire
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top