OJK Tunjuk Direksi Baru Bursa, Ini Harapan Asosiasi Emiten

Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) berharap jajaran dewan direksi Bursa Efek Indonesia yang baru dapat mempertimbangkan lagi usulan-usulan lama yang diajukan AEI yang belum diakomodasi oleh direksi sebelumnya.
Emanuel B. Caesario | 22 Juni 2018 21:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) berharap jajaran dewan direksi Bursa Efek Indonesia yang baru dapat mempertimbangkan lagi usulan-usulan lama yang diajukan AEI yang belum diakomodasi oleh direksi sebelumnya.

OJK pada Jumat (22/6/2018) telah mengumumkan paket terpilih sebagai jajaran direksi baru Bursa Efek Indonesia, yakni paket yang dikepalai Inarno Djayadi sebagai direktur utama. Inarno sebelumnya menjabat sebagai komisaris utama BEI.

Isakayoga, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia, mengatakan bahwa AEI berharap jajaran direksi BEI yang baru dapat mengatasi lebih banyak tantangan di pasar modal Indonesia, menimbang jajaran direksi yang baru merupakan wajah lama di pasar modal Indonesia yang sudah cukup paham tentang seluk belum pasar modal.

Isakayoga mengatakan, salah satu usulan AEI tiga tahun lalu kepada jajaran direksi bursa yang baru adalah revisi atas aturan listing fee yang dinilai cukup memberatkan bagi emiten. Sayangnya, hingga usai masa bakti jajaran direksi yang lama, belum ada perubahan yang berarti pada peraturan tersebut.

“Kita harapkan direksi yang baru ini memperhatikan lagi keinginan emiten untuk mengembalikn lagi cara rumusan perhitungan listing fee,” katanya, Jumat (22/6/2018).

Isakayoga mengatakan, jajaran direksi yang baru merupakan tokoh yang sudah lama berkecimpung di dunia pasar modal. Mereka seharusnya tahu persisi permasalahan di pasar modal dan program-program yang sudah berjalan.

Oleh karena itu, dirinya berharap jajaran direksi yang baru dapat bekerja jauh lebih cepat, khususnya untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi emiten.

Selain persoalan listing fee, hal lain yang diharapkan emiten sejak dahulu yakni strategi untuk meningkatkan likuiditas emiten. Saat ini, masih banyak emiten yang menurutnya masuk kategori emiten tidur, yang mana sahamnya sangat jarang ditransaksikan sehingga cenderung tidak bergerak.

Dirinya mengapresiasi langkah jajaran direksi sebelumnya di bawah pimpinan Tito Sulistio yang berhasil menjalankan program unggulan Yuk Nabung Saham, yang secara signifkan melejitkan jumlah investor ritel di pasar modal dalam dua tahun terakhir.

Menurutnya, AEI berharap program serupa dapat tetap dipertahankan. Strategi peningkatan likuditas dan basis investor menjadi kunci untuk mendorong performa IHSG, yang merupakan wajah dari pasar modal Indonesia.

“Kalau bisa meningkat jumlah investornya dan banyak emiten yang likuid, itu bagus sekali. Harapan kita seperti itu, lebih banyak emiten yang ditransaksikan setiap harinya dari yang sudah terjadi,” katanya.

Selain itu, dirinya juga berharap direksi yang baru mampu mendorong BUMN untuk go public. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu janji yang belum terpenuhi oleh direksi sebelumnya.

Sejauh ini, baru anak usaha BUMN saja yang ramai listing di bursa, sementara induknya justru belum. Selain itu, emiten-emiten baru selama ini cenderung lebih banyak berasal dari kelompok perusahaan menengah ke bawah, sehingga minim dampaknya terhadap kapitalisasi pasar. Masuknya BUMN sebagai perusahaan besar tentu akan berdampak signifikan.

“BUMN itu motornya pasar moda kita. Sudah lama tidak ada BUMN yang IPO,” katanya.

Tag : bursa efek indonesia, ojk
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top