Pasar Asia Terpukul, IHSG Makin Lesu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus terkoreksi dan melemah lebih dari 1% pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (21/6/2018).
Renat Sofie Andriani | 21 Juni 2018 17:44 WIB
Karyawan dan pelaku usaha berada di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus terkoreksi dan melemah lebih dari 1% pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (21/6/2018).

IHSG berakhir melorot 1,05% atau 61,71 poin di level 5.822,33, setelah sempat rebound saat dibuka dengan kenaikan 0,1% atau 6,03 poin di level 5.890,06.

Pada perdagangan Rabu (20/6), IHSG ditutup melemah 1,83% atau 109,59 poin di level 5.884,04. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.815,45 – 5.922,70.

Dari 587 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 141 saham menguat, 255 saham melemah, dan 191 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona merah, dipimpin sektor aneka industri (-3,06%) dan properti (-1,85%). Adapun sektor tambang dan perdagangan mampu menetap di zona hijau, masing-masing dengan kenaikan 0,31% dan 0,25%.

Menurut tim riset Valbury Sekuritas Indonesia, IHSG masih sulit bergerak ke zona positif karena terbebani dominannya sentimen negatif pada pasar.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menjadi pertimbangan Bank Indonesia (BI) dalam memperketat kebijakan moneternya. Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini ditutup melemah 1,22% ke level Rp14.102 per dolar AS.

BI berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilaksanakan 27-28 Juni 2018. Stabilitas rupiah dalam jangka pendek merupakan prioritas BI.

Sementara itu, kenaikan suku bunga acuan BI pada Mei lalu akan mendorong meningkatnya suku bunga kredit. Dampak kenaikan bunga kredit akan mengurangi kemampuan debitur untuk membayar kewajibannya.

Dari luar negeri, konflik yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan China dikhawatirkan dapat mengguncang pasar dan perusahaan sehingga berpotensi menganggu rantai pasokan global.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 ditutup merosot 1,82% atau 9,20 poin di level 496,81, setelah sempat rebound saat dibuka di zona hijau meski hanya dengan kenaikan 0,01% atau 0,03 poin di level 506,04.

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara juga terpantau memerah, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,48%), indeks FTSE Malay KLCI (-1,02%), indeks PSEi Filipina (-2,25%), dan indeks SE Thailand (-1,91%).

Secara keseluruhan, bursa saham Asia melemah di tengah kekhawatiran tentang perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,6% ke posisi 168,80 pada pukul 4.08 sore waktu Hong Kong, dengan pelemahan mayoritas indeks saham utama mulai dari Topix Jepang (-0,12%), Kospi Korea Selatan (-1,10%), dan Hang Seng (-1,35%).

Adapun pergerakan indeks saham acuan di Filipina berakhir di level terendahnya dalam 17 bulan setelah merosot 22% dari rekor level penutupan tertingginya yang dibukukan pada 29 Januari.

“Risiko bertahan karena banyaknya wacana perdagangan terjadi di seluruh kawasan dan ini akan terus meliputi pasar untuk jangka pendek,” ujar Nicholas Teo, seorang pakar strategi perdagangan di KGI Securities (Singapore) Pte., seperti dikutip Bloomberg.

Di samping itu, tambah Teo, penguatan dolar AS juga menimbulkan kekhawatiran bahwa aliran dana akan meninggalkan emerging markets.

Indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia terpantau lanjut menguat 0,40% atau 0,380 poin ke level 95,504 pada pukul 17.07 WIB, setelah berakhir naik 0,12% di poisisi 95,124 pada perdagangan Rabu (20/6).

Saham-saham penekan IHSG:

 Saham

(%)

HMSP

-2,83

ASII

-3,96

TLKM

-2,70

BBCA

-1,63

Saham-saham pendorong IHSG:

Saham

(%)

BDMN

+5,26

DSSA

+20,00

TKIM

+4,71

MIKA

+9,44

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top