Sektor Finansial dan Properti Tekan IHSG Tambah Merosot Pasca Idulfitri

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot hampir 2% pada akhir perdagangan hari pertama pascalibur panjang Idulfitri, Rabu (20/6/2018).
Renat Sofie Andriani | 20 Juni 2018 17:45 WIB
Pengunjung beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (19/2/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot hampir 2% pada akhir perdagangan hari pertama pascalibur panjang Idulfitri, Rabu (20/6/2018).

IHSG berakhir merosot 1,83% atau 109,59 poin di level 5.884,04, setelah dibuka melemah 0,86% atau 51,83 poin di level 5.941,79.

Pada perdagangan terakhir sebelum libur Idulfitri, Jumat (8/6), IHSG ditutup melemah 1,85% atau 113,07 poin di level 5.993,63. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.834,13 – 5.947,78.

Dari 587 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 122 saham menguat, 290 saham melemah, dan 175 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona merah, dipimpin sektor finansial (-3,54%) dan properti (-2,96%).

Adapun sektor aneka industri dan infrastruktur mampu menetap di zona hijau, masing-masing dengan kenaikan 0,80% dan 0,63%.

Menurut Analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama, pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini lebih terkait karena faktor eksternal, di antaranya tensi yang meningkat sehubungan dengan pengenaan tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Faktor lain adalah langkah penaikan suku bunga sebesar 25 bps oleh The Fed. Bank sentral AS tersebut akan melanjutkan penerapan kenaikan suku bunga ke depannya sebanyak dua kali pada tahun ini.

“Hal ini menyebabkan posisi rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS. Kemudian, faktor terkoreksinya harga komoditas dunia turut menyebabkan posisi IHSG tertekan,” kata Nafan kepada Bisnis.com.

Selain sektor finansial, pelemahan sektor properti menjadi penekan utama terhadap IHSG hari ini.

“Pengembang properti di Indonesia menurun di tengah kekhawatiran bahwa Bank Indonesia (BI) dapat menaikkan suku bunga acuannya kembali pada pekan depan,” tutur Yasmin Soulisa, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, seperti dikutip Bloomberg.

Setelah dua kali berturut-turut menaikkan tingkat suku bunga acuan, Bank Indonesia membuka peluang untuk kembali menyesuaikan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sebagai respons terhadap perkembangan ekonomi global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan BI siap mengambil langkah dalam Rapat Dewan Gubernur pada 27-28 Juni, sebagai respons atas langkah kebijakan moneter terbaru dari bank sentral di AS dan Eropa.

Seperti diketahui, dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (13/6), The Fed telah menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 1,75% hingga 2,00%. Kenaikan tersebut merupakan langkah kenaikan suku bunga kedua pada 2018.

Kemudian pada Kamis (14/6), European Central Bank (ECB) memutuskan menahan tingkat suku bunga acuannya sebesar nol persen pada bulan ini. Sementara itu, BI dalam sebulan terakhir telah menaikkan tingkat bunga BI 7-DRR sebesar 50 basis poin menjadi 4,75%.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 ditutup merosot 2,18% atau 11,30 poin di level 506,01, setelah dibuka dengan pelemahan 1,54% atau 7,95 poin di level 509,36.

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau bergerak variatif, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (+0,44%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,33%), indeks PSEi Filipina (-0,70%), dan indeks SE Thailand (+1,51%).

Secara keseluruhan, bursa Asia mampu menguat saat investor mengenyampingkan retorika perang dagang antara pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan China, serta mulai melakukan bargain pada pasar ekuitas di seluruh kawasan.

Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,6% ke posisi 169,73 pada pukul 4.27 sore waktu Hong Kong, ditopang rebound sejumlah indeks saham mulai di Jepang, China, hingga Hong Kong.

“Kabar buruk telah secara penuh dicerna oleh pasar dan pasar kemungkinan melakukan bargain hunting,” ujar Margaret Yang, pakar strategi di CMC Markets Singapore Pte., seperti diikutip Bloomberg.

“Reaksi pasar terhadap meningkatnya tensi dagang antara China dan AS pada Selasa (19/6) mungkin telah terlihat berlebihan.”

 

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

BBRI

-5,73

BBCA

-3,37

HMSP

-3,02

BMRI

-3,60

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

TLKM

+2,77

CPIN

+9,83

INKP

+4,71

ADRO

+3,36

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top