BURSA AS: Ekonomi AS Oke & Politik Italia Terkendali, Indeks Nasdaq Tembus Rekor Baru

Indeks Nasdaq mencetak rekor level penutupan tertinggi untuk hari kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Selasa (5/6/2018), sedangkan indeks S&P 500 mampu mencapai posisi lebih tinggi saat investor mencermati data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid.
Renat Sofie Andriani | 06 Juni 2018 05:57 WIB
Bursa AS menguat - Reuters/Carlo Allegri

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Nasdaq mencetak rekor level penutupan tertinggi untuk hari kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Selasa (5/6/2018), sedangkan indeks S&P 500 mampu mencapai posisi lebih tinggi saat investor mencermati data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid.

Indeks S&P 500 berakhir naik tipis 0,07% atau 1,93 poin di 2.748,8 dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,41% atau 31,40 poin di level 7.637,86. Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,06% atau 13,71 poin di level 24.799,98.

Dilansir dari Reuters, pendorong terbesar terhadap Nasdaq datang dari saham Amazon.com, dengan kenaikan 1,9%, yang juga memimpin kenaikan indeks consumer discretionary pada S&P.

Saham Apple yang naik 0,8%, turut memberi kontribusi kenaikan poin terbesar terhadap indeks teknologi dan terbesar kedua untuk Nasdaq.

Indeks Cboe Volatility, barometer yang menjadi acuan atas perkiraan volatilitas jangka pendek untuk S&P 500, ditutup turun 0,34 poin pada 12,4, level penutupan terendah sejak 26 Januari.

Namun, saham bank menurun bersama imbal hasil obligasi AS, dan investor tampaknya lebih memilih obligasi daripada sektor ekuitas defensif seperti utilitas dan bahan baku konsumen. Sektor keuangan menjadi penekan terbesar terhadap S&P dengan penurunan 0,4%. Saham Bank of America dan Citibank turun sekitar 0,9%.

Di sisi lain, aktivitas sektor jasa AS mengalami akselerasi pada bulan Mei. Ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat pada kuartal kedua, meskipun tarif perdagangan dan kekurangan pekerja menjadi ancaman bagi prospeknya.

“Perekonomian terus menjadi pondasi yang sangat kuat bagi pasar saham. Apa yang tampaknya mencemaskan pasar saat ini adalah kemungkinan perlambatan di luar Amerika Serikat,” kata Tracie McMillion, kepala strategi alokasi aset global untuk Wells Fargo Investment Institute.

Investor berharap untuk tanda-tanda stabilitas politik di Italia saat pemerintah baru yang anti-kemapanan memenangkan suara pertamanya di Senat majelis tinggi dan perdana menteri menjanjikan perubahan radikal, termasuk kesejahteraan dan tindakan terhadap imigrasi.

Saham Twitter ditutup naik 5,1% di tengah pemberitaan bahwa perusahaan media sosial itu akan bergabung dalam indeks acuan S&P 500 AS. Adapun saham Netflix naik 1,1% menyusul pemberitaan bahwa perusahaan ini akan masuk indeks S & P 100.

Di sisi lain, saham perusahaan makanan kemasan AS turun setelah Meksiko mengenakan tarif pada produk-produk pertanian yang sensitif, mulai dari babi hingga bourbon serta jenis keju tertentu. Saham Kellogg dan General Mills masing-masing turun sekitar 2%.

 

Tag : wall street, nasdaq
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top