Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BURSA ASIA: Indeks MSCI Turun Tipis, Rapat Fed Jadi Fokus Selanjutnya

Pergerakan bursa Asia turun pada perdagangan pagi ini, Selasa (5/6/2018), setelah membukukan reli pada perdagangan sebelumnya.
Bursa Asia melemah tipis pagi ini./.Reuters
Bursa Asia melemah tipis pagi ini./.Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan bursa Asia turun pada perdagangan pagi ini, Selasa (5/6/2018), setelah membukukan reli pada perdagangan sebelumnya.

Meski demikian, penurunannya dibatasi performa cemerlang bursa Wall Street pada akhir perdagangan Senin (4/6/2018), yang didorong penguatan saham teknologi serta beralihnya perhatian investor dari kekhawatiran perdagangan kepada fundamental ekonomi.

Dilansir dari Reuters, indeks saham MSCI Asia Pacific, selain Jepang, turun 0,1% setelah menguat 1,4% pada perdagangan kemarin. Adapun indeks Nikkei Jepang naik 0,2% dan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,3%.

Sementara itu, pergerakan tiga indeks saham utama Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street berakhir menguat pada perdagangan Senin, dengan Nasdaq mencetak rekor level penutupan tertingginya.

Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir menguat 0,72% atau 178,48 poin di level 24.813,69, indeks S&P 500 naik 0,45% atau 12,25 poin di 2.746,87, sedangkan indeks Nasdaq Composite ditutup menguat 0,69% atau 52,13 poin di level 7.606,46.

Laporan data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan untuk bulan Mei yang dirilis pada Jumat (1/6/2018) masih merupakan kunci bagi optimisme investor, dengan para pedagang mengalihkan fokus mereka dari kekhawatiran perang perdagangan baru-baru ini.

“Data AS yang kuat menempatkan kembali fundamental dalam sorotan, sama seperti kekhawatiran politik Italia yang surut,” kata Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management, Tokyo.

Kelompok anti-kemapanan Italia membentuk pemerintahan koalisi pada hari Jumat untuk mengakhiri kebuntuan tiga bulan dan mencegah kemungkinan pemilihan yang tidak stabil.

“Titik fokus berikutnya adalah pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) mendatang dan apakah The Fed menunjukkan indikasi mempercepat laju penaikan suku bunga menyusul laporan ketenagakerjaan yang kuat,” tambah Ichikawa.

Bank sentral AS tersebut dijadwalkan akan mengadakan pertemuan kebijakan moneter yang berlangsung dua hari mulai tanggal 12 Juni.

Dengan berkurangnya aksi penghindaran risiko pada pasar, obligasi pemerintah yang bersifat safe-haven dijual dan imbal hasilnya naik. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun berada di kisaran level tertingginya dalam 11 hari yakni 2,946% yang dicapai semalam.

Imbal hasil tersebut turun ke level terendahnya dalam 1,5 bulan di 2,759% pekan lalu, ketika kekhawatiran seputar politik di Italia telah mengusamkan sentimen investor.

Rebound pada imbal hasil AS mengangkat dolar AS, sekaligus membantu memperlambat penguatan euro terhadap greenback.

Nilai tukar euro flat di US$1,1699, sedangkan indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama berada di posisi 94,040 setelah turun 0,2% semalam.

Pada komoditas, harga minyak mentah defensif saat ekspansi produksi AS dan kemungkinan pertumbuhan pasokan global membebani harga. Sementara itu, harga emas bergerak menuju penurunan sesi keempat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper