IHSG Kuat Saat Pasar Asia Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (23/5/2018), saat mayoritas indeks saham di Asia justru tertekan.
Renat Sofie Andriani | 23 Mei 2018 17:48 WIB
Karyawati mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (23/5/2018), saat mayoritas indeks saham di Asia justru tertekan.

IHSG ditutup menguat 0,71% atau 40,88 poin di level 5.792, setelah dibuka dengan kenaikan 0,23% atau 13,20 poin di level 5.764,42.

Adapun pada perdagangan Selasa (22/5), IHSG rebound dan berakhir naik 0,30% atau 17,26 poin di level 5.751,12. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.764,31 – 5.850,54.

Dari 581 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 175 saham menguat, 203 saham melemah, dan 203 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, enam dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona hijau, dipimpin sektor finansial (+1,89%) dan konsumer (+1,13%). Adapun sektor tambang yang melemah 3,21% memimpin koreksi di antara tiga sektor lainnya.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berakhir menguat 1,42% atau 6,99 poin di level 499,49, setelah dibuka dengan kenaikan 0,44% atau 2,16 poin di posisi 494,65.

Beberapa indeks saham lain di Asia Tenggara justru terpantau memerah sore ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-1,32%), indeks FTSE Malay KLCI (-2,21%), indeks SE Thailand (-0,24%), dan indeks PSEi Filipina (-1,12%).

Di kawasan Asia lainnya, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing berakhir turun 0,68% dan 1,18%. Indeks Hang Seng Hong Kong melorot 1,82%, sedangkan indeks Shanghai Composite CSI 300 China masing-masing ditutup melemah 1,41% dan 1,32%.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia turun untuk hari ketiga saat bursa saham Jepang melemah di tengah menguatnya kinerja nilai tukar yan yang membebani prospek laba eksportir.

Pada saat yang sama, investor mencermati ketidakpastian mengenai rencana pertemuan bersejarah antara para pemimpin Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara.

Pada Selasa (22/5/2018), Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pertemuannya dengan pemimpin Korut Kim Jong Un kemungkinan besar tidak akan berlangsung seperti yang direncanakan pada 12 Juni.

Indeks MSCI Asia Pacific pun turun 0,4% ke posisi 173,52 pada pukul 4.10 sore waktu Hong Kong.

Di tengah pelemahan bursa Asia, IHSG justru berhasil melanjutkan penguatannya, dengan sejumlah saham perbankan sebagai pendorong utama, yakni BBRI (+5,88%) dan BMRI (+3,83%).

Menurut analis, valuasi saham di Indonesia menjadi menarik bagi sejumlah investor, dengan fokus pada saham perbankan pascapenurunan baru-baru ini.

“Ekuitas Indonesia telah turun secara signifikan dan menekan valuasi,” jelas Andrey Wijaya, kepala riset RHB Securities Indonesia, seperti dikutip Bloomberg.

"Beberapa investor melihatnya menarik dan mulai melakukan pembelian, khususnya pada saham-saham tertentu seperti bank yang mengalami penurunan lebih besar dibandingkan dengan saham lainnya," tambah Andrey.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah berakhir melemah 67 poin atau 0,47% di Rp14.209 per dolar AS, setelah mampu rebound dan berakhir menguat 48 poin atau 0,34% di posisi Rp14.142 pada perdagangan Selasa (22/5/2018).

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BBRI

+5,88

BMRI

+3,83

HMSP

+2,31

TKIM

+7,20

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

BYAN

-19,72

ADRO

-5,44

FREN

-15,15

KLBF

-2,65

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top