Rupiah Terus Terdepresiasi, Bank Indonesia: Yang Keluar Hanya Hot Money

"Yang keluar adalah investor berjenis trader yang melakukan carry trade, yang punya view jangka pendek, artinya more or less, [yang keluar itu hanya hot money]," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah kepada Bisnis.com, Senin (21/5/2018).
M. Richard | 21 Mei 2018 16:49 WIB
Petugas mengangkut tumpukan uang kertas pada bagian pelayanan perkasan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (7/6). - Antara/Moch Asim

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memandang pelemahan nilai tukar rupiah hanya disebabkan oleh keluarnya spekulan global yang bermain di spot dolar AS jangka pendek.

"Yang keluar adalah investor berjenis trader yang melakukan carry trade, yang punya view jangka pendek, artinya more or less, [yang keluar itu hanya hot money]," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah kepada Bisnis.com, Senin (21/5/2018).

Sementara itu, katanya, investor dengan pandangan jangka panjang masih bertahan dan tetap percaya dengan fundamental ekonomi domestik Indonesia.

Seperti diketahui, depresiasi nilai tukar rupiah masih berlanjut meski BI telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 4,5%. Hari ini (21/5/2018) nilai tukar rupiah berakhir melemah 34 poin atau terdepresiasi 0,24% ke level Rp14.190 per dolar AS, atau melemah sekitar 4,7% year to date.

Namun sayangnya, Nanang tidak menjelaskan bagaimana strategi pengendalian yang akan dilakukan BI untuk mengendalikan nilai tukar rupiah yang terus depresiasi tersebut, karena banyak pengamat memperkirakan pelemahan tersebut akan terus berlangsung hingga rapat FOMC pada Juni mendatang.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top