Kenaikan BI 7DRR: Kepercayaan Diri Pasar Bisa Meningkat

Keputusan rapat dewan gubernur Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga kebijakan BI 7 days repo rate sebesar 25 bps menjadi 4,5% diyakini akan meningkatkan kepercayaan diri pelaku pasar obligasi untuk kembali masuk ke pasar.
Emanuel B. Caesario | 17 Mei 2018 20:03 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan rapat dewan gubernur Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga kebijakan BI 7 days repo rate sebesar 25 bps menjadi 4,5% diyakini akan meningkatkan kepercayaan diri pelaku pasar obligasi untuk kembali masuk ke pasar.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa setelah suku bunga acuan dinaikkan, potensi pelemahan di pasar obligasi masih tetap terbuka karena faktor eksternal yang tidak bisa sepenuhnya diprediksi.

Namun, setidaknya keputusan ini meredam potensi pelemahan yang lebih parah akibat terus berlanjutnya arus modal keluar dari pasar dalam negeri.

“Kebijakan ini menunjukkan pemerintah ikut menjaga pasar, sehingga akan membuat pasar lebih confidence. Kemarin-kemarin ragu untuk masuk karena takut ada pelemahan lanjutan, padahal yield sudah tinggi,” katanya, Kamis (17/5/2018).

Ramdhan mengatakan, sudah sewajarnya BI mengikuti tren suku bunga luar negeri, dari pada terus melakukan intervensi pasar dengan biaya yang besar. Selanjutnya, pasar berharap pemerintah mampu memperbaiki kinerja makroekonomi lainnya, misalnya neraca perdagangan yang terakhir tercatat defisit.

Maximillianus Nico Demus, Director Research & Investment Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa yield US Treasury 10 tahun yang menyentuh level 3,106% menjadi yang tertinggi sejak 2011.

Dengan kondisi ini, sulit untuk terus menahan aliran dari keluar dari Indonesia menuju Amerika, mengingat jauhnya perbedaan peringkat surat utang kedua negara. Harga obligasi Indonesia mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan itu.

Sepanjang bulan Mei saja hingga Rabu (16/5), nila jual bersih asing di obligasi negara sudah mencapai Rp18,09 triliun, melampaui nilai jual bersih asing sepanjang bulan April senilai Rp13,45 triliun.

Nico mengatakan, ada dua faktor yang akan diantisipasi pasar. Pertama, kemungkinan yield US Treasury untuk meningkat lebih tinggi. Kedua, kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Juni mendatang.

Bila kedua hal tersebut terjadi, arus modal keluar akan makin tidak terbendung sehingga BI kemungkinan masih harus menaikkan suku bunganya sekali lagi setelah kenaikan pertama ini. Hal ini perlu untuk menjaga kurs rupiah tidak sampai membentuk titik keseimbangan baru di 14000 yang tentu akan sangat membebani APBN.

“Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga ini akan memberikan kenyamanan dalam jangka pendek Namun, belum tentu ini bisa menahan lebih jauh karena kita ini emerging market yang fragile, acuan kita imbal hasil US Treasury dan suku bunga The Fed,” katanya.

Tag : bank indonesia, Suku Bunga
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top