Investor Berpotensi Raup Imbal Hasil Menarik dari Volatilitas Pasar

Volatilitas ini diperkirakan masih akan berlanjut karena kenaikan suku bunga acuan The Fed, kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, dan kondisi geopolitik di Suriah. Namun, kinerja pasar finansial Indonesia diperkirakan masih akan positif hingga akhir tahun 2018.
Tegar Arief | 26 April 2018 17:59 WIB
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia melihat peningkatan volatilitas pasar finansial menciptakan peluang bagi investor untuk mendapatkan potensi imbal hasil yang menarik.

Berdasarkan data, pasar saham Indonesia ikut terpengaruh volatilitas global dengan turun 1,08% (YTD per 16 April 2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ikut melemah hingga 1,66% (YTD per 16 April 2018).

Volatilitas ini diperkirakan masih akan berlanjut karena kenaikan suku bunga acuan The Fed, kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, dan kondisi geopolitik di Suriah. Namun, kinerja pasar finansial Indonesia diperkirakan masih akan positif hingga akhir tahun 2018.

Investor berpeluang mendapatkan potensi imbal hasil yang menarik dari volatilitas yang terjadi saat ini. Beragam faktor dari dalam negeri turut mendukung pemulihan ekonomi Indonesia, seperti peningkatan belanja pemerintah dan ekspansi subsidi yang menopang daya beli, serta pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist Manulife mengatakan investor tidak perlu panik dengan apa yang terjadi di pasar. Kenaikan suku bunga AS menurutnya telah diantisipasi oleh pasar.

"Ada faktor pendukung pasar finansial yakni bank sentral di kawasan Asia secara umum tetap akan menjaga suku bunga rendah di tengah kenaikan Fed Rate. Kebijakan suku bunga rendah tetap bisa dilakukan karena adanya stabilitas inflasi, sinkronisasi pertumbuhan global, dan prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," jelasnya di Jakarta, Kamis (26/4/2018).

Kedua, belajar dari pengalaman masa lalu, ketegangan dagang AS dan China kemungkinan besar tidak akan berkembang menjadi perang dagang. Secara keseluruhan, eksposur perdagangan kawasan Asia ke AS masih cukup terkendali. Jika ketegangan meningkat, sambungnya, terdapat potensi bahwa daya saing produk Indonesia akan meningkat dan memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Ketiga, ketegangan geopolitik di Suriah yang kemungkinan meningkatkan kenaikan harga minyak, sebetulnya berpotensi meningkatkan PDB Indonesia. "Keempat, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai kunci dalam meredam volatilitas pasar finansial," imbuhnya.

Dia meyakini pemulihan ekonomi masih akan terus berlanjut. Belanja negara pada dua bulan pertama tahun 2018 mencapai 11,2% dari target. Sementara belanja sosial, yang menjadi kunci penting untuk menopang daya beli masyarakat, naik tajam. Pemerintah juga fokus menjaga daya beli masyarakat.

Sejumlah inisiatif diluncurkan pemerintah untuk mendukung daya beli, seperti pemberian THR untuk PNS dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sebelumnya, penurunan tarif tol, peningkatan penyerapan dana desa, dan ketersediaan BBM subsidi yang lebih luas.

"Untuk mendukung pertumbuhan manufaktur, pemberian insentif pajak korporasi diberikan untuk investasi baru dan bagi korporasi yang melakukan ekspansi."

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top