Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Melemah Terhadap Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali melemah menyentuh level terendahnya dalam sekitar dua tahun terhadap dolar AS, di tengah depresiasi mata uang Asia.
Renat Sofie Andriani | 25 April 2018 19:19 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali melemah menyentuh level terendahnya dalam sekitar dua tahun terhadap dolar AS, di tengah depresiasi mata uang Asia.

Rupiah ditutup melemah 0,23% atau 32 poin di Rp13.921 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (25/4/2018). Padahal mata uang garuda sempat melanjutkan penguatan saat dibuka dengan apresiasi 8 poin atau 0,06% di Rp13.881 per dolar AS.

Pada perdagangan Selasa (24/4), rupiah berhasil rebound dan berakhir menguat 86 poin atau 0,62% di posisi 13.889. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.880 – Rp13.924 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah telah melemah ke level terendahnya dalam sekitar dua tahun terhadap dolar AS, terlepas dari intervensi Bank Indonesia di pasar sejak awal Februari untuk mengurangi volatilitas yang tinggi.

Hal ini memicu kekhawatiran bahwa BI dapat menaikkan suku bunga 7-DRR demi menjaga nilai tukar rupiah saat pasar negara berkembang menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS.

“Bank sentral (BI) dapat menaikkan suku bunga lebih awal dari perkiraan karena pengetatan kebijakan moneter di belahan lain di dunia dan volatilitas rupiah,” ujar Enrico Tanuwidjaja, ekonom United Overseas Bank Ltd. di Jakarta.

Namun menurut Gareth Leather, ekonom senior Asia di Capital Economics Ltd. di London, ada pula kemungkinan pemangkasan suku bunga apabila kinerja rupiah stabil.

Mata uang lainnya di Asia juga terpantau melemah, dipimpin rupee India sebesar 0,73%, diikuti baht Thailand dan dolar Singapura yang masing-masing terdepresiasi 0,41% pada pukul 18.02 WIB.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,3% atau 0,276 poin ke level 91,042 pada pukul 17.52 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka turun tipis 0,008 poin atau 0,01% di level 90,758, setelah pada perdagangan Selasa (24/4) melemah 0,20% atau 0,180 poin dan ditutup di posisi 90,766.

India memimpin penurunan mata uang Asia di tengah meningkatnya imbal hasil obligasi AS dan kenaikan harga minyak. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik untuk hari kedelapan menembus level 3%, sedangkan harga minyak stabil di kisaran level tertingginya dalam tiga tahun.

“Dinamika utama yang berkembang pada mata uang Asia adalah meningkatnya imbal hasil AS dan harga minyak,” kata Dushyant Padmanabhan, currency strategist di Nomura, seperti dikutip Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top