IHSG Anjlok ke Level Terendah Sejak Pertengahan Desember 2017

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari dua persen pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (25/4/2018), pelemahan di hari keempat berturut-turut sekaligus penurunan terbesar di antara indeks saham lainnya di Asia.
Renat Sofie Andriani | 25 April 2018 17:29 WIB
Karyawan dan pelaku usaha berada di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari dua persen pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (25/4/2018), pelemahan di hari keempat berturut-turut sekaligus penurunan terbesar di antara indeks saham lainnya di Asia.

IHSG ditutup anjlok 2,51% atau 156,62 poin di level 6.073,01, setelah dibuka di zona merah dengan turun 0,16% atau 9,87 poin di level 6.219,76.

Pada perdagangan Selasa (24/4), IHSG berakhir melorot 1,24% atau 78,51 poin di level 6.229,63. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran level 6.072,44 – 6.220,04.

Dari 575 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 82 saham menguat, 312 saham melemah, dan 181 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, seluruh sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona merah, dipimpin sektor finansial (-4,10%), konsumer (-2,55%), dan tambang (-2,12%).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berakhir anjlok 3,39% atau 18,63 poin di level 530,38, pelemahan di hari keempat berturut-turut, setelah dibuka turun 0,21% di posisi 547,86.

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara juga terpantau melemah sore ini dengan indeks FTSE Malay KLCI (-0,72%), indeks PSEi Filipina (-0,56%), indeks SE Thailand (-0,62%), dan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,46%).

Di kawasan Asia lainnya, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup turun 0,11% dan 0,28%. Indeks Kospi Korsel juga berakhir negatif dengan pelemahan 0,62%.

Sementara itu di China, pergerakan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing berakhir turun 0,35% dan 0,38%. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong ditutup melemah 1,01%.

Dilansir Bloomberg, IHSG melemah ke level terendahnya sejak pertengahan Desember 2017, dengan indeks sektor finansial sebagai penekan utama, akibat kekhawatiran bahwa Bank Indonesia dapat menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2014 demi menjaga nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah hari ini ditutup melemah 32 poin atau 0,23% di Rp13.921 per dolar AS.

Sektor finansial yang melemah 4,1% memimpin koreksi di antara seluruh kelompok industri pada IHSG. Saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) masing-masing melemah 7,77% dan 4,8%.

“IHSG dapat turun lebih jauh, kemungkinan menguji level 6.000,” jelas Harry Su, managing director PT Samuel International di Jakarta. “Investor dapat mulai mengakumulasi sejumlah saham pada titik ini.”

Sejumlah analis dari PT BNI Sekuritas, PT Ciptadana Sekuritas Asia, dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengatakan depresiasi rupiah, telah meningkatkan peluang suku bunga 7-DRR yang lebih tinggi secepatnya pada bulan depan. Keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia berikutnya dijadwalkan pada 17 Mei.

“Rupiah yang lebih lemah serta kenaikan harga minyak dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan kombinasi semua faktor ini dapat memperlambat pertumbuhan pinjaman pada industri perbankan,” ujar John Teja, direktur Ciptadana, dikutip Bloomberg.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

BMRI

-7,77

BBCA

-4,80

BBRI

-5,44

UNVR

-4,06

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

AUTO

+14,02

BNGA

+2,69

BSSR

+8,53

TBIG

+2,31

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top