Emiten Tambang: INCO Bukukan Pendapatan Rp2,35 Triliun

Emiten tambang mineral PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membukukan pendapatan senilai US$170,45 juta pada kuartal I/2018 atau setara dengan Rp2,35 triliun.
Hafiyyan | 25 April 2018 17:17 WIB
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Nico Kanter (kanan) didampingi Wakil Presiden Direktur B. Irmanto berbicara pada acara Public Expose Marathon yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia, di Makassar, Kamis (14/9). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA -- Emiten tambang mineral PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membukukan pendapatan senilai US$170,45 juta pada kuartal I/2018 atau setara dengan Rp2,35 triliun.

Dalam laporan keuangan INCO periode 31 Maret 2018, manajemen menyebutkan pendapatan perusahaan mencapai US$170,45 juta. Nilai itu meningkat 18,42% year on year dari kuartal I/2017 sebesar US$143,94 juta.

Bila dikonversi ke rupiah, pendapatan perusahaan pada masing-masing periode ialah Rp2,35 triliun dan Rp1,96 triliun. Nilai tukar rupiah per Maret 2018 ialah Rp13.789 per dolar AS, sedangkan per Maret 2017 adalah Rp13.611 per dolar AS.

Beban pokok pendapatan per kuartal I/2018 meningkat menjadi US$154,18 juta dari sebelumnya US$146,39 juta. Namun, INCO berhasil berbalik membukukan laba bruto US$16,27 juta dari rugi bruto US$2,45 juta pada kuartal I/2017.

Perusahaan pun membukukan laba US$6,84 juta atau Rp94,32 miliar. Nilai itu berbalik dari rugi US$6,16 juta atau Rp83,83 miliar.

Laba per saham dasar dan dilusian pada kuartal I/2018 positif US$0,001. Sebelumnya pada kuartal I/2017, rugi per saham dasar sebesar US$0,001.

"Peningkatan kinerja kuartal I/2018 didukung peningkatan harga penjualan yang lebih tinggi," papar CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter dalam siaran pers, Rabu (25/4/2018).

Pada periode Januari--Maret 2018 perusahaan merealisasikan produksi nickel matte sejumlah 17.141 ton. Volume itu turun 11,25% year on year (yoy) dari kuartal IV/2017 sebesar 19.313 ton karena adanya aktivitas pemeliharaan sesuai perencanaan.

Namun demikian, sambung Nico, volume produksi tersebut serupa dengan kuartal I/2017 sejumlah 17.224 ton ketika perusahaan juga melakukan aktivitas pemeliharaan. Oleh karena itu, perseroan masih optimistis mencapai target produksi nickel matte pada 2018 sekitar 77.000 ton.

Adapun, kenaikan beban pokok pendapatan disebabkan kenaikan harga bahan bakar, yakni high sulphur fuel oil (HSFO), diesel, dan batu bara. Harga masing-masing ketiga komponen itu pada kuartal I/2018 ialah US$60,36 per barel, US$0,58 per liter, dan US$144,09 per ton.

Pada kuartal I/2017, rerata harga bahan bakar HSFO, diesel, dan batu bara secara berturut-turut adalah US$50,89 per barel, US$0,49 per liter, dan US$124,06 per ton.

Untuk memacu kinerja di tengah kenaikan ongkos bahan bakar, menurut Nico, perusahaan akan mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan berupaya mengurangi biaya.

Sementara itu, arus kas INCO yang digunakan untuk aktivitas operasi sejumlah US$18,58 juta per Maret 2018. Padahal pada kuartal I/2017 perusahaan mendapatkan kas dari operasi sebesar US$77,53 juta. Posisi kas pada akhir periode pun menurun menuju US$177,91 juta dari sebelumnya US$235,49 juta.

Liabilitas INCO berhasil berkurang menjadi US$331,14 juta pada kuartal I/2018 dibandingkan sebelumnya US$365,19 juta. Liabilitas jangka pendek ikut menurun menuju US$118,19 juta dari kuartal I/2017 sebesar US$129,30 juta.

Per Maret 2018, ekuitas Vale Indonesia naik menjadi US$1,83 miliar dari sebelumnya US$1,82 miliar. Namun, total aset perseroan hanya mencapai US$2,16 miliar, menurun dari kuartal I/2017 sebesar US$2,18 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa efek indonesia

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top