Harga Komoditas Bakal Kerek Kinerja Astra International (ASII) Tahun Ini

Pemulihan harga komoditas yang telah berlangsung sejak tahun lalu diyakini akan menjadi katalis positif bagi kinerja PT Astra International Tbk. sepanjang 2018. Perseroan akan memaksimalkan pendapatan pada entitas anak yang aktivitas usahanya terhubung langsung dengan harga komoditas.
Dara Aziliya | 18 April 2018 18:22 WIB
PT United Tractors Tbk. menyumbang 3 unit Bus Transjakarta - Bisnis.com/Miftahul Khoer

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan harga komoditas yang telah berlangsung sejak tahun lalu diyakini akan menjadi katalis positif bagi kinerja PT Astra International Tbk. sepanjang 2018. Perseroan akan memaksimalkan pendapatan pada entitas anak yang aktivitas usahanya terhubung langsung dengan harga komoditas.

Head of Investor Astra International, Tira Ardianti mengungkapkan beberapa entitas anak Astra Internasional yang kinerjanya bergantung pada sektor komoditas membukukan pendapatan dan laba memuaskan pada tahun lalu.

“Kalau mau lihat kinerja Astra, bisa lihat harga komoditas. Misalnya kinerja United Tractors tahun lalu, sangat positif karena harga batu bara sudah di atas US$90 per ton. Lalu kinerja Astra Agro Lestari juga tahun lalu positif, karena harga CPO meningkat,” ungkap Tira di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Tira menjelaskan, pada tahun ini, PT United Tractors Tbk. menganggarkan belanja modal mencapai Rp12 triliun untuk dapat kembali berinvestasi dan menyalurkan alat-alat berat. Pada 2 hingga 3 tahun sebelumnya, emiten dengan kode saham UNTR tersebut terpaksa memangkas investasi untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar.

Tahun ini, United Tractors akan menganggarkan belanja modal sebesar Rp12 triliun atau nyaris setengah dari capex konsolidasi 2018 yang sebesar Rp25 triliun. Perseroan akan meningkatkan investasi untuk menyejajarkan diri dengan banyaknya permintaan alat berat yang tahun ini diprediksi mencapai 4.200 unit.

Terkait sektor otomotif, manajemen memprediksi pertumbuhan permintaan kendaraan roda empat pada tahun ini tidak akan signifikan dari tahun lalu yaitu di kisaran 2%. Dengan asumsi tersebut, ASII mematok target pangsa pasar sebesar 50%, dari 54% pada 2017.

Kendati demikian, Tira menyampaikan induk usaha mendorong UNTR dan AALI untuk tidak bergantung sepenuhnya pada harga komoditas, dengan melakukan diversifikasi usaha. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir UNTR mulai melirik sektor lain seperti infrastruktur dan pertambangan emas.

Untuk Astra Agro Lestari, perseroan akan perlahan mengurangi porsi penjualan bahan mentah berupa CPO, dan akan memperbesar produksi dari produk-produk turunan CPO yang harganya lebih stabil di pasar.

“Berbahaya kalau Astra hanya bergantung pada harga komoditas. Pada 2012-2013 kinerja kami bagus, tapi 2014-2015 malah nyungsep karena harga komoditas turun. Ke depan, harus ada upaya balancing,” ungkap Tira.

Analis NH Korindo Sekuritas, Arnold Sampeliling menyampaikan ekspansi produk baru seperti Mitsubishi Xpander dan Wuling akan menggerus pangsa pasar Astra. Apalagi, Gaikindo memprediksi penjualan kendaraan roda empat tahun ini hanya naik 1,9% menjadi 1,1 juta unit.

“Tahun lalu, kinerja ASII sangat tertolong oleh pendapatan Bank Permata yang meningkat 376% dari 2016,” ungkap Arnold.

Research Analyst MNC Sekuritas, Nurulitas Harwaningrum menilai pemain-pemain baru akan terus memengaruhi pangs apasar Astra. Kendati demiian, ASII diyaini akan tetap prospektif karena kenaikan permintaan pasa segmen LMPV dan LSUV.

“Meski pemain otomotif semakin banyak terutama di segmen LMPV dan LSUV, industri otomotif tetap mendapatkan angin segar dari pinjaman bunga rendah. Selain itu, permintaan kedua segmen tersebut juga akan menguat,” ungkapnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
united tractors, astra international

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup