Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini 3 Alasan Korporasi Aktif Terbitkan Obligasi pada Kuartal I

Rendahnya biaya dana serta kekhawatiran terhadap ketidakpastian yang akan meningkat pada semester kedua mendorong banyak korporasi untuk agresif menerbitkan surat utang sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 04 April 2018  |  20:50 WIB
Ini 3 Alasan Korporasi Aktif Terbitkan Obligasi pada Kuartal I
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Rendahnya biaya dana serta kekhawatiran terhadap ketidakpastian yang akan meningkat pada semester kedua mendorong banyak korporasi untuk agresif menerbitkan surat utang sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), total surat utang korporasi yang telah terdaftar di KSEI hingga akhir kuartal pertama mencapai Rp49,15 triliun, terdiri atas obligasi Rp36,73 triliun, EBA-SP Rp2 triliun dan medium term notes (MTN) Rp10,4 triliun.

Selain itu, ada juga emisi dalam denominasi asing senilai US$44 juta. Bila dirupiahkan dengan kurs Rp13.700 nilainya adalah sekitar Rp600 miliar. Dengan demikian, total emisi kuartal pertama tahun ini menjadi sekitar Rp49,75 triliun.

Padahal, pada kuartal pertama tahun lalu, emisi surat utang korporasi hanya mencapai Rp25,17 triliun, terdiri atas obligasi Rp23,1 triliun dan MTN Rp2,09 triliun. Artinya, ada peningkatan hampir 100% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ahmad Mikail, Ekonom Samuel Sekuritas, mengatakan bahwa sedikitnya ada tiga alasan di balik meningkatnya emisi obligasi di awal tahun ini. Pertama, kalangan korporasi melakukan strategi front loading atau penarikan utang lebih dini di awal tahun untuk kebutuhan pembiayaan tahunan. Strategi ini juga dilakukan pemerintah terhadap surat utangnya.

Alasannya, ada kekhawatiran gejolak pasar akan semakin meningkat di semester kedua mendatang sehingga mendorong biaya dana menjadi semakin tinggi. Sepanjang tahun ini saja, imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun sempat meningkat hingga ke level di atas 6,8%, meskipun kini sudah kembali turun ke level 6,6%. Naiknya yield SUN akan turut menyebabkan kupon obligasi semakin tinggi.

Kekhawatiran ini terjadi seiring dengan potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat menyusul perbaikan data-data perekonomian mereka. Pada awal tahun ini, The Fed baru satu kali menaikkan suku bunga acuannya, dan diperkirakan masih akan dinaikkan lagi 2 kali tahun ini.

“Jadi, ini memang strategi front loading korporasi. Kami melihat, pada Juni atau September nanti emisi surat utang korporasi akan cenderung turun karena kuponnya sudah naik,” katanya.

Ahmad menilai, meskipun emisi surat utang korporasi meningkat tajam di awal tahun ini, tetapi secara total hingga akhir tahun ini akan relatif sama nilainya seperti tahun lalu. Menurutnya, nilainya akan sekitar Rp158 triliun hingga Rp160 triliun, sementara tahun lalu sekitar Rp155 triliun.

Kedua, emisi surat utang oleh kalangan BUMN juga meningkat pesat dua tahun belakangan dan hal tersebut berlanjut di awal tahun ini. Hal ini terutama dipacu oleh agresivitas pemerintah membangun infrastruktur. Tahun lalu, emisi surat utang oleh BUMN sudah melampaui emisi surat utang oleh korporasi non-BUMN

Beberapa BUMN yang agresif menerbitkan surat utang di awal tahun ini antara lain Waskita Karya Rp3,45 triliun, PLN Rp3,23 trilun, SMF Rp2 triliun obligasi dan Rp2 triliun EBA-SP, dan Bank BRI Rp2,44 triliun.

Ketiga, kalangan korporasi masih akan melanjutkan strategi refinancing pada tahun ini. Menurut Ahmad, nilai jatuh tempo surat utang korporasi tahun ini mencapai Rp83 triliun, lebih tinggi dari tahun lalu Rp74 triliun. Oleh karena itu, akan wajar bila mereka melakukan strategi refinancing lebih dini selagi yield di pasar masih murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : Riendy Astria
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top